I’ll Be There For You

Baca lebih lanjut

Iklan

Coco

Dari awal film ini muncul saya suka dengan musiknya. Tapi setelah tahu kalau ternyata film ini memasukkan unsur-unsur mistis kok jadi rada gimana ya.. Tapi akhirnya setelah dengar teman menontonnya dengan suara musik yang menggelegar dan puji-pujian yang menyertainya (maksudnya, dia memuji film ini), saya tonton juga deh si Coco.

Hidup dalam kerutinan itu gak seru. Apalagi jika ada sesuatu dalam diri kita yang ingin kita wujudkan namun kita tau kalo seluruh orang yang kita sayang gak bakal mendukung. Syedih. Gimanapun, kita ingin memberi tau dunia tentang siapa kita dan apa yang kita ingin lakukan dengan penuh cinta.

Dukungan keluarga itu penting. Walopun mereka berkali-kali menolak, bahkan sampai melukai hati kita, tapi ketika mereka mengerti, mereka akan menjadi orang-orang di barisan terdepan yang ada buat kita.

Bagaimana Disney mengangkat budaya dan kepercayaan dengan nilai sentimentil tertentu patut diberi apresiasi. Kalo kemarenan Moana dari Kepualauan Pasifik, sudah. Sekarang beda lagi. Dengan membawa berbagai macam latar belakang budaya, penonton dapat belajar sesuatu tentang dunia dan tentang dirinya sendiri.

Ingatan akan seseorang itu berdampak, itu yang saya bisa pelajari dari Coco. Bukan berarti saya setuju atau menolak tradisi daerah setempat, tetapi ketika kita mengingat seseorang, maka kenangan akan sosok orang tersebut memang terasa masih hidup dalam hidup kita. Contohnya saja Opung Doli saya yang terkasih. Beliau berpulang Juli 2017 lalu. Belum setahun memang, tetapi ketidakberadaan beliau tidak begitu saya rasakan karena saya masih ingat senyumnya, jalan bungkuknya, permainan recordernya, gayanya pakai topi, cara makannya yang lambat, matanya yang bulat kecil tajam dan.. yang paling berkesan adalah bagaimana beliau berdoa. Yang ingat Opung bukan cuma saya aja, tetapi masih banyak orang termasuk anak dan cucu dan cicitnya yang masing-masing punya kenangan tersendiri tentang Opung. Opung masih ada dalam ingatan.

Remember Me menang jadi lagu terbaik di Oscar. Mungkin karena liriknya yang emang sederhana tapi dalem, dan permainan manis gitarnya. Mama Coco aja masih bisa ingat sama lagu itu setelah sekian tahun lamanya. Remember Me..

Gambar dari IMDb.

Winner of World Cup 2018

Baru selesai nonton final Piala Dunia 2018 dengan Prancis sebagai juaranya. Tapi buat saya Kroasia tetap hebat. Ya, mereka bagus dalam menyerang dan mereka lupa untuk harus tetap bertahan. Mereka bisa saja akan jadi juara pertama di Piala Dunia selanjutnya. Prancis juga mendapatkan kemenangan dengan cara tidak instan. Komentator bilang bahwa mereka punya sistem pembinaan berjenjang yang panjang dan pastinya pelatih yang luar biasa. Nah! Kena lagi kan sama pemuridan. Dan karena ini bisa jadi adalah Piala Dunia terakhir saya, maka saya berterima kasih pada Sang Pemilik waktu yang sudah memberikan kesempatan kepadaku untuk menonton pertandingan final ini..bersama pria yang paling saya sayangi di dunia.

Btw, ini satu-satunya pertandingan yang saya tonton selama Piala Dunia 2018.

Selamat untuk Kroasia.

Selamat untuk Prancis.

Selamat untuk Indonesia juga, yang akan jadi tuan rumah Asian Games 2018! Yeay!

Avengers: Infinity War

Yeay! Nonton film Marvel lagi. Katanya ini film yang ditunggu-tunggu, yang pasti bukan oleh saya. Karena gak ngikutin film-film sebelumnya, jadi gak gimana2 juga nontonnya.

Sekarang yang main keroyokan. Ketemu sama Dr. Strange lagi. Eh, belum tampilin dia ya.. Wah? Sorry Doctor, padahal I sudah nonton you punya film juga. Dia kayaknya yang paling punya karisma di antara yang lain. Sama kayak pemerannya di dunia nyata. Kalo ngobrol kayak serius terus ekspresinya. Mampir ke Wakanda juga. Paling seru di situ. Saya yang seru sendiri, maksudnya. Hahaha.. abis kangen sama Wakanda. Ada pula si Peter Parker yang kalah kece sama sebelum-sebelumnya. Wajah-wajah lain makin terlihat tua. Ada juga tokoh yang saya gak tau jalan ceritanya. Antman, contohnya.

Eh, si Thanos. Kepala gilesan baju. Kasian campur gemes liat dia. Emang dahsyat kalo bisa memiliki dan menggunakan seluruh bebatuan yang bisa menguasai bumi. Tapi kalo semuanya cuma bisa dinikmati sendiri, emang enak? Tunggu aja Nos.. tunggu 2019 yak.

Gambar dari IMDb.

Pasific Rim 2: Up Rise

Lagi-lagi. Kali ini sedang di luar kota dan diajak nonton oleh temannya teman. Dan film yang akan ditonton adalah sekuel dari film pertamanya. Dan saya belum pernah nonton film pertama. Dan mau gimana lagi? Nikmati saja. Hampir dalam waktu yang berdekatan menonton film dengan tema sci-fi dan action. Pemeran utamanya juga sama-sama orang kulit hitam. Di awal film sempat dikasih sedikit cuplikan apa yang terjadi di akhir film pertama. Oke lah, cukup bisa membuat mengerti untuk melanjutkan jalan cerita selanjutnya.

Hidup dengan robot sudah terjadi di tahun 2018 ini. Nantinya pasti akan lebih banyak lagi robot berkeliaran bebas dan hidup seperti orang-orang kebanyakan. Kalo di film ini, manusianya yang masuk dalam tubuh robot dan mengendalikannya.

Saya senang dengan bagaimana dua orang bisa (dan harus) selaras ketika menjadi otak si robot. Bayangkan kalo 2 orang itu lagi marahan. Jangan dibayangkan deh, tonton aja filmnya. Masing-masing harus bisa mengendalikan ego agar si robot bisa berfungsi dengan baik. Yang satu berperan sebagai bagian kanan dan yang lain bagian kiri. Ribet gak sih? Waktu mereka latihan, pada salah-salah gak ya? Kalo saya bayangkan agak ribet, tapi sekarang aja saya jadi terkagum sendiri, bagaimana kedua jempol saya bisa bekerjasama menari di atas keyboard. Masing-masing tau kapan bagiannya harus maju dan kapan harus diam. Dan, bersama dengan para robot lain, semua diperlukan untuk menyelesaikan sebuah misi penyelamatan bumi dari kehancuran. Padahal robot lain dikendalilan oleh para trainee yang masih anak-anak. Ternyata ketika diberikan kepercayaan, dan kemampuan yang gak main-main pastinya, anak-anak muda ini bisa bekerjasama dengan senior mereka.

Robot.. robot…

 

Gambar dari IMDb

Black Panther

Seperti biasanya, karena ajakan teman maka akhirnya nonton film di bioskop. No idea tentang film ini awalnya. Maklum, bukan pecinta Marvel. Hanya penikmat saja. Tapi ternyata cukup seru juga. Yang paling saya senang adalah hampir SEMUA pemainnya adalah orang kulit hitam. Saya tidak tahu ada berapa banyak film lain yang seperti itu tapi melihat gaya, mendengar logat bicara, dan juga musik serta budaya mereka di Wakanda membuat saya kangen sama temen2 Afrika tersayang (Apa kabarnya kalian?)

Karena mereka memakai logat yang jarang didengar (biasanya kan logat Amrik), saya jadi agak ekstra hati2 mendengarkan karena tidak mau terpaku pada subtitle yang ada di bagian bawah layar. Capek bacanya, apalagi itu layar panjang. Hahahaha.. untungnya dialog tidak terlalu panjang dan sangat mudah untuk dimengerti.

Saya suka musik, kain, pemandangan alam dan kecanggihan yang ada di Wakanda. Walaupun pakai efek komputer, tetapi untuk musik dan busana kayaknya beneran deh. Dan itupun jadi cukup viral, terbukti di bulan puasa ini makin banyak toko online yang menjual baju koko Black Panther. Abis bagus2 sih..

Saya juga suka bagaimana si pangeran menjalani pergulatan batinnya ketika mau diangkat dan selama menjabat menjadi raja. Juga waktu kedudukannya sebagai raja terancam. Dukungan penuh dari keluarga dan orang-orang yang mengasihi serta percaya padanya sangat menguatkan. Oh, juga dari si kepala suku monyet. Lucu banget tuh kepala suku.

Pada akhirnya, ketika Wakanda harus terbuka pada dunia luar ada akibat yang harus ditanggung juga. Dengan seorang raja yang memimpin dengan bijak dan berhikmat maka Wakanda akan bisa menjadi berkat bagi dunia.

Gambar dari IMDb.

Susah Signal

Lagi-lagi nonton sama kawan-kawan. Kata mereka yang sudah pernah nonton Cek Toko Sebelah, film ini gak apa-apanya. Saya sih enggak banyak ekspetasi juga. Pemandangan alamnya indah. Jadi pingin ke sana.

Gambar dari IMDb.