Mulai Lagi

Okey, terakhir menulis itu bulan Maret dan sudah ada Covid-19. Sekarang sudah September yang artinya sudah 7 bulan hidup bersama Covid di Indonesia. Tapi aq gak mau nulis tentang Covid di sini.

Hmm… Ada yang bilang begini: “Aku tidak ingin orang yang kusuka menderita atau terluka karena aku. Aku hanya ingin mereka berpikir bahwa aku selalu baik-baik saja.”

Apa yang dipikirkan oleh orang yang berkata demikian? Mungkin kedengarannya bermaksud baik dan sedikit heroik, tapi apakah dia yakin orang yang dia suka akan suka dengan hal tersebut?

Mari berpikir dari sisinya, untuk mencoba memahami apa yang ada dalam hatinya. Apa yang membuat saya berpikir bahwa saya akan melukai orang yang saya suka? Kenapa saya ingin terlihat sedang baik-baik saja? Apa yang sedang saya sembunyikan? Bagaimana meyakinkan orang yang saya suka bahwa saya sedang tidak apa-apa dan itu tidak mengapa? Apakah sulit mengatakan hal tersebut?

Pasa akhirnya, semua jadi hanya nampak di permukaan saja. Walaupun perasaanmu tulus, tidak.. Justru karena perasaanmu tulus maka yang kamu lakulan itu jadi menyakitkan. Bukan cuma orang yang kamu suka yang menderita. Kamu juga.

Kamu juga.

Lupa Penyebab, Ingat Akibat

Saya pernah datang terlambat ketika mau mengikuti audisi lomba SKJ jaman SMP. Saya lupa apa yang membuat saya terlambat tapi yang saya tidak bisa lupa adalah saya akhirnya tidak terpilih.

Saya juga mengulangi hal yang sama ketika mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya terlambat datang beberapa menit di mana peserta lain sudah hampir menyelesaikan isian daftar hadir dan lain-lain di bagian awal. Saya tidak ingat kenapa saya bisa terlambat tapi yang saya tidak pernah lupa adalah waktu gemeteran memasuki ruang ujian.

Sekarang, saya masih terus diproses untuk terus dan lebih menghargai waktu pemberian Tuhan yang sangat berharga ini. Cukup sudah keterlambatan pada masa lalu yang sampai sekarang saya masih belum ingat penyebabnya, tapi selalu saya kenang akibatnya. Saya belajar untuk memberi margin pada waktu sehingga tidak perlu tergesa atau terburu-buru. Seperti Bapak yang sejak dulu sudah selalu bilang lebih baik sampai lebih cepat dan menunggu daripada terlambat.

Dalam pengerjaan dan penyelesaian tugas juga demikian. Saya berusaha bagaimana bisa mengerjakan sesuatu dengan efektif dan efisien sehingga waktu bisa digunakan dengan sebaik-baiknya. Apa selalu berhasil? Enggak juga. Ada banyak faktor yang sering bikin usaha saya gagal. Tapi tidak mengapa, saya tetap berusaha.

Intinya, saya tidak mau membuat sebuah alasan yang akan menjadi penyebab yang akhirnya saya ingat untuk sebuah akibat yang tidak bisa saya lupakan.

Anyway, ending UMPTN berbeda dengan audisi SKJ.

🙂

Doa Seorang Anak (part 2)

Syalom.
Sebelumnya saya mohon maaf. Karena kami sdng mengurus masalah pelanggaran hak cipta.
Lagu Doa Seorang anak diproduksi membabi buta, diganti judul oleh oknumu2 dll ..
Dibentuk opini bahwa yg menciptakannya Kriswidianto dan Julia hanya syairnya. Bahkan di daftarkan ke smule , wsing .. tanpa ijin oleh oknum2 yang tidak bertanggung jawab. Dan dipakai Even organizer tanpa royalty. So 21 thn lagu ini tdk berdampak moril dan materil bagi penciptanya.
Saya bersama kuasa hukum sdng dlm memperbaiki hal2 yg tidak benar terlebih dahulu.
Untuk sementara belum bs kasih ijin untuk diperpanjang penayangan ini. Mohon maaf.
Trm ksh

Kutipan di atas adalah sebuah komentar atas tulisan saya yang berjudul “Doa Seorang Anak”. Karena membutuhkan moderasi dari admin, maka komentar yang masuk tidak otomatis muncul. Karena penasaran, saya langsung menghubungi alamat email si penulis komentar yang ada tercantum. Komentar tersebut sudah dibuat sejak 3 Agustus 2019 dan saya baru menyadarinya 9 hari kemudian. Maklumlah, jarang banget buka email. Maka Senin, 12 Agustus 2019, saya mengirim email dan dimulailah percakapan berbalasan saya dengan si penulis komentar.

Singkat cerita, saya bersyukur sudah kirim email pada Senin sore jelang malam itu. Dari proses percakapan kami, saya jadi tahu bagaimana sejarah lahirnya lagu Doa Seorang Anak, langsung dari penciptanya. Saya juga berterima kasih kepada Ibu Julia Pardede yang sudah mau bersusah payah terus menanggapi email balasan saya. Reply terbaru saya akan saya kirim setelah saya mengunggah tulisan ini, yaitu setelah saya menampilkan kembali lirik lagu “Doa Seorang Anak” sesuai dengan nama pencipta dan sumber yang seperti diharapkan oleh Ibu Julia Pardede sendiri.

So, tanpa berpanjang lagi.. Ini dia lirik lagunya..

Lirik lagu Doa Seorang Anak .
Ciptaan : Julia Pardede
Song & lyrics: Julia Pardede / Yulia Pardede/Julia Pardede Galastaun / Julia Pardede Serwy

Di dalam doamu 
Kau sebut namaku
Di dalam harapmu
Kau sebut namaku
Di dalam segala hal 
Namaku dihatimu

Tak dapat kubalas
Cintamu ayahku
Tak kan kulupakan 
Nasehatmu ibu
Hormat orang tuamu
Agar lanjut umurmu 
Di bumi

Reff:
Trima kasih ayah dan ibu
Kasih sayangmu padaku
Pengorbananmu 
Meneteskan peluh
Tuk kebahagiaanku

Tuhan lindungi ayah ibuku
Dalam doa ku berseru
Tetes air matamu 
Yang kau tabur
Di tuai bahagia

Sumber: https://thejpsongs.com/

Buat yang mungkin penasaran juga, silakan kunjungi web ini untuk bisa mengetahui lebih banyak mengenai lagu “Doa Seorang Anak”.

Well, I have done my part. Have a blessed life, everyone! 🙂

Jangan Kaget

Beberapa waktu lalu seorang penulis kristiani terkenal menyatakan dirinya bukan lagi pengikut Kristus. Beritanya membuat kaget banyak orang. Buku-buku yang ditulisnya sudah membuat pengaruh yang luar biasa pada jamannya.

Dan belum selesai hal itu dibicarakan orang, kemarin ada lagi berita seorang pemimpin pujian dari sebuah gereja yang sangat terkenal di dunia juga menyatakan dirinya tidak lagi seorang Kristen. Banyak lagunya yang telah memberkati banyak orang.

Dari dua peristiwa ini, saya (Ida), jadi berpikir.. Ini benar-benar terjadi, mau berapa lama kita merasa sudah menjadi orang Kristen, kita masih punya peluang untuk meninggalkan Tuhan. Jangan ditanya apa yang menyebabkan orang-orang tadi berpaling iman, semuanya bukan pemikiran sesaat tapi sudah mereka gumulkan bertahun-tahun sementara mereka tetap melakukan kegiatan mereka. Lalu bagaimana reaksi kita? Buat yang tidak tahu siapa mereka atau mengenal karya-karyanya, mungkin tidak akan berpengaruh banyak. Mungkin kita hanya bisa mengelus dada dan bertanya-tanya mengapa merkea bisa begitu. Atau, kita menerawang sambil berkata, “Yah, itulah kehidupan..” Tap ibuat yang pernah membaca buku-bukunya dan atau mendengar, menyanyikan dan diberkati oleh lagu-lagunya, mungkin akan merasa yang berbeda. Beberapa reaksi yang mungkin muncul adalah kaget, sedih, marah, kecewa dan atau malah mulai mempertanyakan iman.

1. Jangan menghakimi.

Jangan. Menghakimi. Biar Tuhan yang menjadi Hakim.

2. Perhatikan Hidup

Daripada menghakimi, lebih baik lihat ke dalam diri sendiri. Sudah bagaimana kita menjalani hidup sebagai orang yang mengaku percaya

3. Saling Menjaga

Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran setiap orang, namun kita bisa tetap saling menjaga dalam lingkaran kasih dan persaudaraan Kristus.

Mungkin setelah dua orang ini akan ada lagi bermunculan orang-orang yang dengan berani melakukan hal yang sama. Jangan kaget.

18 Questions of 2018. Day 18.

18 Questions of 2018. Day 17.

18 Questions of 2018. Day 16.

18 Questions of 2018. Day 15.