Selepas Kau Pergi

Nearer My God To Thee
Nearer My God To Thee

Kepergian seorang bapak sering menjadi momen bagi anak-anaknya, yang selalu bertikai, untuk bersatu.”

-Leila S. Chudori, dalam artikel Seorang Bapa, Sepotong Sejarah

Kompas, Edisi 27 Juni-3 Juli 2005, halaman 153

Gak sengaja aku baca artikel ini. Awalnya aku cuma tertarik halaman sampul aja. Disitu ada tulisan Jamaah Corbyah. “Ada bundel TEMPO baru nih..”, pikirku.

Ternyata, itu semua TEMPO lama. 3 tahun lalu. Kekenyangan abis makan siang akupun menyempatkan diri duduk2 bentar sambil baca berita2 lama yang ada di TEMPO sebelum mulai ngapa2in lagi. Aku punya artikel favorit yang gak pernah terlewatkan kalo sempet baca TEMPO yaitu Film, Seni, Pokok & Tokoh, dan Luar Negeri. Sebenernya kalo sempet aku bisa aja baca semua tapi karena TEMPO disini cepet banget berputarnya maka pilih2 deh bacanya.

Artikel tadi dari bagian Luar Negeri. Bercerita tentang berpulangnya Kardinal Jaime Sin dari Filipina. Aku selalu suka baca berita dari luar negeri, walopun itu gak ada hubungannya secara langsung sama diriku. Tapi sekarang aku ngerti kok kenapa aku suka pingin tau sama apa yang terjadi di luar sana.. Nah, kutipan di atas itu adalah kalimat penutup dari artikel. Sebenarnya ada 2 kalimat dalam 1 paragrafnya tapi kalimat pertama lebih meninggalkan kesan buatku.

Sudah lama aku mendoakan seorang bapak. Dia keluarga dari seorang teman dan aku hanya mengenalnya dari cerita temenku juga. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan beliau. Saat membaca kalimat penutup artikel di TEMPO itu aku kembali diingatkan tentang bapak ini. Bagaimana kabarnya ya? Temanku sudah pindah kota dan aku juga gak tau gimana kabarnya. Temenku pernah bilang bahwa keberadaan bapak ini merupakan alat pemersatu dalam keluarga. Entah bagaimana nanti jika beliau dipanggil pulang oleh Bapa di sorga, katanya lagi. Apakah keluarga akan tetap bersatu atau sebaliknya?

Satu doaku adalah agar bapak ini selalu mendapatkan damai yang dari Allah dalam hidupnya. Aku harap belum terlambat untuk itu. Aku rindu juga Tuhan memulihkan keluarga besarnya. Seperti kata Paulus dalam Kisah Para Rasul 16:31,

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Ya, sampai kini aku masih berdoa untuk itu. Walau sama sekali gak ketauan gimana kabar beritanya.. Semoga selepas bapak pergi keluarga masih boleh tetap saling mengasihi dalam Yesus…

Satu tanggapan untuk “Selepas Kau Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s