In Christ Alone

In Christ alone will I glory
Though I could pride myself in battles won
For I’ve been blessed beyond measure
And by His strength alone I’ll overcome
Oh, I could stop and count successes like diamonds in my hands
But those trophies could not equal to the grace by which I stand
In Christ alone
I place my trust
And find my glory in the power of the cross
In every victory
Let it be said of me
My source of strength
My source of hope
Is Christ alone
In Christ alone do I glory
For only by His grace I am redeemed
For only His tender mercy
Could reach beyond my weakness to my need
And now I seek no greater honor in just to know Him more
And to count my gains but losses to the glory of my Lord
In Christ alone
I place my trust
And find my glory in the power of the cross
In every victory
Let it be said of me
My source of strength
My source of hope
Is Christ alone

8 November 2008
Mendengar lagu ini pertama kali dinyanyikan dalam sebuah pernikahan. Can you imagine that? Okelah.. banyak lagu yang bisa dinyanyikan kenapa lagu ini yang dipilih? Bukan kebetulan kalau teman yang sedang menikah ini orang yang musikal tapi itu tidak menjadi alasan kenapa lagu ini yang dipilih. Apa temanku ini bahkan tidak tahu kalau lagu ini ada dalam daftar lagu pernikahannya? Apakah ini juga adalah inisiatif dari solis yang membawakannya? Dan kenapa juga lagu ini didendangkan pas acara sungkeman dan penyalaan lilin? Masih menjadi pertanyaanku sampai sekarang…

Sebenernya ini juga bukan pertama kalinya buat aku denger lagu In Christ Alone. Dah lama lagu ini bertengger dalam daftar laguku di Winamp. Tapi aku punya yang bahasa Indonesia. Dalam Kristus oleh Franky Sihombing. Huwah…bisa ampe nangis2 kalo dengerin lagu ini. Apalagi kalo pas sendiri, di luar hujan dan dengan penerangan yang secukupnya. Semua kata-kata dalam lagu ini sangat bermakna. Tapi pas aku denger lagi di nikahannya temenku, mataku terpaku pada kata-kata ini:

” Oh, I could stop and count successes like diamonds in my hands
But those trophies could not equal to the grace by which I stand”

Seketika aku inget sama piala yang ada di rumah. Piala yang ku dapat waktu menang perombaan mata pelajaran PMP/IPS/PSPB di SD dulu. Itu piala replika karena piala aslinya di taro di sekolah. Itupun aku tahunya setelah agak lama. Bangga rasanya waktu itu bisa menang. Mungkin karena kepala sekolah pikir aku akan senang kalo ada piala maka dibuatkan piala bohongannya. Padahal saat itu aku gak peduli ada piala atau enggak. Walo aku agak marah karena pialanya sempat patah oleh kepala sekolah SD sebelah. Gak tau ya, persaingan saat itu terasa sekali dan aku merasa ada yang berusaha dengan cara tidak sehat sehingga saat kalah tidak bisa menerima kenyataan. Hahaha.. apa sih anak kecil berpikir seperti itu? Gak tau..bener-bener gak tau.. tapi aku masih inget betapa aku jengkel karena piala yang patah itu. Biarpun aku gak mau piala tapi itu diberikan karena aku berhasil mengalahkan berapa sekolah dari berapa kabupaten di Jawa Barat. Piala itu menjadi kebanggaan buat sekolah dan juga keluargaku. Dan katanya setelah aku gak ada lagi yang mampu menoreh prestasi seperti itu lagi. Oya?

Bangga..pasti! Aku sadar banget kalo aku tuh bisa bukan karena belajar rajin. Trus kenapa aku bisa? Juara kelas selama 6 tahun. 3 besar selama 3 tahun. Kemaren sempet denger acaranya Golden Rule di MetroTV. Sempet dibahas apa bedanya orang cerdas, orang pintar dan orang bijak. Gak nangkep euy, abis suaranya sayup-sayup ditambah lagi temen-temen kos berisik banget.

Tapi ada satu titik dimana Tuhan pingin menyadarkan aku yang terlalu menganggap mudah segala sesuatu yang bahkan tidak kudapat dengan kekuatanku sendiri. Dibuat-Nya aku sampai di titik minus. Selama 2 tahun aku seperti mayat hidup yang pergi ke sekolah tanpa tahu apa yang mau aku kerjakan atau aku capai. Mengerikan! Aku tau aku gak boleh selamanya kayak gitu. Kemana si bintang kelas? Aku berusaha inget-inget apa yang aku lakukan dulu sehingga aku bisa sukses dan berhasil selama sekolah dasar dan lanjutan pertama? Gak bisa! Enggak bodo-bodo amat tapi kenapa sepertinya ada yang mampet di otak?

Akhirnya aku sadar bahwa Dia pingin aku seperti dulu yang bener-bener menyerahkan semuanya pada-Nya. Aku ni cuma alat-Nya aja. Melaluiku Dia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar yang aku aja gak tau kenapa aku bisa melakukannya. Dia pake tanganku, kakiku, mulutku.. Terbayang Ida kecil yang menang disana-sini. Itu bukan aku sama sekali. Kebanggaanku cuma karena Dia. Kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil sudah digantikan dengan arogansi orang yang beranjak gede. Gak sadar kalo semua yang ku punya tidak ada yang kudapat kalo gak dikasih sama Tuhan. Cuma karena kasih-Nya. Karena Dia berkenan memberikannya padaku maka aku bisa.

Selepas SMU aku makin sadar bahwa Tuhan ingin pakai aku lebih lagi untuk jadi berkat buat orang lain. Pasti ada satu hal tertentu yang cuma aku yang bisa kerjakan dan Tuhan merancang aku untuk melakukannya. Aku diselamatkan untuk melayani. Dan semua yang ku dapat dulu sampai hari ini hanya karena kasih karunia. Tidak ada kebanggaan yang melebihi hal itu. Aku ada sebagaimana aku ada sekarang hanya karena kasih karunia-Nya. Sebanyak apapun piala yang ku punya, keberhasilan yang kuraih, sukses yang kudapat gak sebanding dengan kasih-Nya yang menyelamatkanku. Cuma dalam Dia aku bisa hidup. Gak mau lagi deh coba-coba keluar dari naungan kasih sayang-Nya..

Hehehhe.. kebayang gak sih bisa terseret ke masa lalu kayak gitu selama si solis bernyanyi dan tiba-tiba tersedot kembali ke bangku dalam gereja yang terhias cantik? Susah payah aku menahan air mata supaya gak tumpah. Wong temenku yang sungkeman malah ketawa-ketiwi kok aku yang nangis..

17 November 2008

Berusaha mencari Mp3 In Christ Alone. Ternyata kutemukan Brian Littrell juga menyanyikannya. Doeng!! Kemana aja, Da?? Eh, pada tau Brian yang ku maksud gak? Itu loh.. Briannya Backstreet Boys! Dan ternyata itu dah dari tahun 2005. Ck..ck..ck.. Ketinggalan banget sih aku.. Tapi seingatku yang pernah kudengar itu bukan suaranya Brian. Cari..cari..cari.. aku dapet situs pribadinya dan disitu ada penjelasan mengenai makna lagu In Christ Alone bagi Brian. Aku juga lihat penampilannya di youtube. Duh.. Brian, Brian.. gak cuma kamu yang blessed…me too! And praise God for that!!

Satu tanggapan untuk “In Christ Alone”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s