Majesty

Pada kebaktian minggu lalu paduan suara pemuda di gerejaku nyanyi Majesty. Biasanya aku bisa denger saat mereka masih latihan pemanasan di Sopo Godang, gedung sebelah gereja. Tapi minggu lalu aku datengnya ngepas mulai, gak sampe telat sih..

Aku lupa kapan mereka masuk ruang ibadah. Sore itu ada dua paduan suara yang mengisi kebaktian. Paduan Suara Naposo dan Miracle. Miracle itu sebenernya juga bukan paduan suara, tapi bukan vokal group juga. Mereka tuh anak2 yang bukan remaja lagi tapi gak mau masuk pemuda. Dan mereka membuat kumpulan menyanyi sendiri yang mereka namakan Miracle. Ini sudah masuk tahun ketiga keberadaan mereka di tengah gereja.

Oke, kembali ke paduan suara pemuda. Saat tiba waktu mereka nyanyi, mereka berdiri. Lia, pemain keyboard yang biasa mengiringi mereka duduk di belakangku. Aku tanya siapa yang mengiringi. Dia bilang Ribka, anak baru. Maka merekapun bernyanyi.

Aku tidak tahu dari awal mereka akan bernyayi lagu Majesty. Lagu itu punya arti yang mendalam buat aku. Isi lagu itu persis seperti judulnya yaitu pengagungan kepada Allah dan Yesus Kristus. Ini syairnya:

Majesty, worship his majesty;
Unto Jesus be all glory, honor, and praise.
Majesty, kingdom authority,
Flow from his throne unto his own, his anthem raise.
So exalt, lift up on high the name of Jesus.
Magnify, come glorify Christ Jesus, the King.
Majesty, worship his majesty,
Jesus who died, now glorified, King of all kings.

Waktu pertama kali belajar chord lagu dengan keybord di rumah, aku juga memilih lagu ini untuk bisa aku kuasai. Susah..apalagi buat aku yang gak biasa bermain keyboard. Tapi begitu aku bisa menyelesaikan satu lagu sampai selesai rasanya senang sekali. Kalo ketemu alat musik sebangsa keyboard, selalu lagu itu yang aku mainkan. Kalo aku memainkannya sendiri di dalam ruang gereja yang dingin dan gelap, rasanya tempat itu menjadi terang dan hangat. Dalam kondisi hati yang bagaimanapun, saat aku mendengar atau memainkan sendiri lagu itu, rasanya semua sirna, yang ada hanyalah aku dan Tuhanku. Bagaimana kuasa dan kemuliaan-Nya seketika melingkupiku dan membawaku untuk menyembah-Nya, karena siapa Dia. Satu karya anak manusia yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain yang mendengarnya.

Tapi aku tidak dapat merasakan hal yang sama pada sore itu. Kalau boleh dibilang penampilan mereka sore itu bener2 buruk. Itu penilaian yg mungkin keluar dari mulut seorang Indra Lesmana atau bahkan Simon Cowell. Aku gak ngerti ada apa dengan suara mereka. Terdengar kasar. Juga dengan aransemen yang terdengar berantakan. Di beberapa bagian lagu ada suara2 yang tertinggal. Entah karena gak hapal teks atau karena memang aransemennya yang sulit diikuti dan dinikmati. Mereka juga seperti ingin cepat2 menyelesaikan lagu itu sehingga tidak bisa mengikuti iringan keyboardnya. Aku berada tepat di barisan belakang mereka sehingga bisa mendengar semua. Ah, intinya aku merasa bersalah kenapa harus mendengarnya. Kalau aja bisa aku pingin nutup kupingku selama mereka nyanyi. Tapi aku menahan melakukan hal itu. Masih ada sedikit harapan yang sedari awal dah aku bangun waktu mereka mengucapkan kata pertama dari lagu itu. Tapi aku hanya bisa tertunduk saat mereka selesai dan kembali duduk. Aku bertahan untuk tidak menangis.

Saat mereka mulai berdiri, aku pandangi mereka satu persatu dari belakang. Tidak bisa semua. Saat mereka mulai bernyanyi aku bertanya dalam hati, “Tuhan, apakah mereka mengerti lagu yang sedang mereka nyanyikan ini?”. Saat mereka berada di tengah lagu dan nada mulai lebih tinggi aku berdoa, : “Tuhan, semoga mereka benar2 menyanyikan lagu ini dengan hati mereka, bukan dengan suara mereka aja..”

Sudah lama aku merasa resah dan gelisah sama paduan suara pemuda gerejaku. Aku tidak meresahkan lagu yang mereka nyanyikan tapi hati mereka saat menyanyikannya. Kamu ngerti maksudku? Sudah lama aku ingin melihat lagu yang mereka nyanyikan dapat tercermin juga dalam kehidupan sehari-hari. Ada hidup yang diubahkan.

He's been Faithful
He’s been Faithful

Kamu dah pernah baca buku He’s Been Faithfull? Buku itu karangan Carol Cymbala? Dia pemimpin paduan suara di sebuah gereja di Amerika. Pergumulan dia untuk orang2 yang dipimpinnya membuatku berani juga memimpikan hal yang sama. Gerejanya berada di sebuah komunitas atau daerah yang enggak banget. Kejahatan di jalan sering terjadi. Perkelahian antar tetangga, pembunuhan, pemerkosaan. Anggota gerejanya juga terdiri dari berbagai ras dan sering sekali terjadi pertikaian. Dia istri seorang pendeta muda yang baru dipindahkan ke wilayah itu. Diceritakan betapa stressnya dia waktu pertama kali belajar mengenal lingkungan barunya yang jauh bertolak belakang dari tempat dan suasana dia dibesarkan. Dia sempat menolak untuk ikut pindah dan juga menyarankan suaminya agar pilih tempat lain aja. Tapi pasangan itu lebih memilih untuk taat sama Tuhan dan menghadapi apa yang ada di depan mereka. Mereka percaya Tuhan punya rencana untuk kota itu melalui kehadiran mereka.

Lalu dimulailah kehidupan bergeraja disana. Sebagai orang baru dia banyak diharapkan oleh banyak orang untuk dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dia tidak ingin membuat perubahan itu terlihat hanya pada bagian luarnya saja. Dia juga tidak bisa ngelakuin itu sendiri. Dia ingin hidup orang disana bener2 berubah. Untuk itu dia harus mengenalkan Tuhan Yesus. Dan itu gak mudah. Aku baca buku itu dan berpikir, “ Gila, gak main2 banget nih orang..Cuma buat sebuah paduan suara aja dia bener2 total.”. Orang2 yang pada mau daftar paduan suaranya banyak dan suaranya juga bagus2. Tapi sebelum resmi jadi anggota, ada beberapa tahap seleksi yang harus mereka ikuti.Tahap terakhir adalah saat harus bertemu dan wawancara dengan suaminya yang adalah pendeta. Satu hal aja yang ingin diketahui, yaitu bagaimana kerohanian mereka selama ini. Disitulah banyak penyanyi bagus yang tumbang. Mereka -Carol dan Jimmy, suaminya- gak lantas menolak semua yang masih ragu akan identiitasnya dalam Kristus. Mereka memberi kesempatan jikalau ada orang yang ingin belajar mengenai Kristus. Setelah menjadi anggota pun tidak lantas semuanya bisa ikut menyanyi di sebuah kebaktian. Ada satu orang ibu yang awalnya tidak bisa bergabung namun karena ibu itu menunjukkan kesungguhan untuk bertumbuh dan itu terlihat dari perubahan hidupnya maka mereka berpikir bahwa sudah saatnya ibu itu untuk ikut bernyanyi. Sekali lagi aku berpikir,” Wow! Sampe segitunya…” Tapi memang itu intinya. Semua orang harus dibimbing kepada Kristus sebelum mereka melakukan semua aktifitas yang mereka anggap baik dalam gereja. Dan dalam cerita Carol, itu dimulai dalam kelompok paduan suara. Carol gak bisa membayangkan bagaimana mereka yang bernyanyi nantinya tidak dapat mengerti nyanyian mereka sendiri. Apalagi mengajak orang lain untuk memuji Tuhan.

Gak mudah perjuangannya. Penuh air mata. Banyak yang gak suka bahkan dari orang gereja sendiri dan teman sesama pengerja gereja. Ya, kamu tau sendiri lah kayak begitu gak cuma terjadi di sana, di sini juga. Tapi berkat doa terus menerus pada Tuhan dan usaha yang dia lakukan akhirnya paduan suara itu dapat terus bertahan dan sekarang malah makin terkenal. Banyak diundang diberbagai perhelatan tapi mereka kebanyakan menolaknya. Ya, mereka punya pertimbangan tersendiri untuk itu. Tapi mereka tidak dapat menahan berkat dari Tuhan untuk orang lain melalui kehadiran mereka. Mereka merekam suara mereka dan itu menjadi berkat juga bagi banyak orang. Itupun bukan keinginan mereka sendiri untuk merekamnya.

Selesai baca buku itu aku menangis. Bisa gak ya itu terjadi juga di sini? Gak harus jadi terkenal, tapi ada hidup yang diubahkan. Apa yang bisa aku lakukan? Pemimpin berganti tetapi tidak ada yang menangkap hal itu. Aku jelas tidak bisa (dan juga tidak mau) jika diminta untuk memimpin. Tidak, bukan begitu (lagi) caranya. Waktuku nantinya akan habis tersita untuk hal2 yang gak penting sementara hal terpenting menjadi terbengkalai. Aku sudah pernah mengalaminya dan itu tidak efektif.

Kini aku terus mencari jalan bagaimana bisa membagi beban itu. Aku belum menemukannya. Aku terus berdoa supaya diluar sana ada juga yang memiliki kegeliasahan yang sama denganku. Dan pada waktunya, in His time, Tuhan sendiri yang mengatur bagaimana kami dapat bertemu, berbagi dan mungkin mulai merencanakan sesuatu untuk dapat merubah keadaan.

Rasanya hatiku sakit sekali sore itu. Bagaimana bisa aku diam aja dan terus menerus membiarkan hal itu terjadi berulang-ulang tanpa melakukan apapun untuk dapat mengubahnya? Aku sadar kalo itu juga harus dimulai dari diriku sendiri. Penilaianku dan persepsiku dahulu terhadap pemuda HKBP mungkin adalah salah satunya. Mungkin Tuhan ingin supaya aku bener2 memiliki motivasi yang tulus dan benar sebelum aku diberi tugas yang besar. Aku pernah berpikir buruk tentang keberadaan pemuda di gereja dan karena itu aku gak mau masuk jadi anggota pemuda. Baik di gereja di Bekasi (itu karena waktu aku pindah untuk kuliah ke Yogya aku mang masih kategori remaja) maupun di sini (karena aku masih menyimpan persepsiku tentang pemuda di gereja ku). Rasanya itu yang pertama kali harus aku rubah. Lucu deh, dulunya benci banget tapi sekarang jadi mengasihi. Tapi masih ada hal2 yang harus aku tinggalkan dulu sebelum aku melangkah maju dengan impianku tadi.

Aku masin ingat dulu pernah mencatat apa kira2 visiku. Dan dengan sederhana aku nulis: Ingin membawa jemaat dapat menyanyi dengan benar dan mengerti apa yang mereka nyanyikan. Itu jauh sebelum aku seperti adanya aku sekarang. Gak ngerti kalo hal itu terus ada dalam hatiku sementara sekarang aku bahkan dah hampir 2 tahun lebih vakum di dunia tarik suara di gereja. Gak nyangka juga Tuhan membawa aku sejauh ini. Aku kira itu sudah bisa aku lupakan (dan Tuhan juga gak anggap visi itu serius). Tapi itu selalu ada disini. Di hatiku.

Aku ingin merasakan menjadi bagian dalam paduan suaranya Don Moen, atau minimal Carol tadi. Aku ingin melihat bagaimana hidup mereka. Gak tau apa kamu juga merasa hal sama tapi aku selalu merasa merinding saat mendengar lagu atau melihat DVD konser Don Moen yang selalu bawa choir. Aku percaya pada kuasa doa yang mereka naikkan sebelum, selama dan sesudah choir itu bernyanyi. Pasti mereka juga berdoa buat siapa aja yan nantinya mendengar lagu2 itu supaya Tuhan memberkati orang2 itu juga. Aku tau itu karena aku mengalaminya. I feel blessed. Dan itu (cuma) melalui nyanyian. Sesuatu yang mungkin gak dianggap serius bahkan oleh orang2 yang dah sering melakukannya. Itu yang aku lihat dalam diri temen2 di paduan suara gerejaku. Mereka gak sadar kalo melalui lagu2 yang mereka nyanyikan mereka dapat memberkati banyak orang yang mendengarnya. Atau bahkan membuat orang itu jauh dari Tuhan. There’s a power trough a song. Mereka mungkin belum mengerti hal ini karena mereka sendiri belum bertemu dengan Pribadi yang berkuasa itu. Ini yang seharusnya menjadi perhatian utama tiap pemimpin paduan suara. Bukan hanya menggerak-gerakkan tangan didepan disaksikan oleh berpasang-pasang mata. Bukan hanya berhasil membuat anggotanya bernyanyi dengan baik, tapi juga dengan benar. Dengan sikap hati yang benar. Hati yang menyembah. Menyembah Allah yang Mulia. Seperti lagu yang paduan suara gerejaku nyanyikan:

Majesty, worship his majesty;

Unto Jesus be all glory, honor, and praise.

Majesty, kingdom authority,

Flow from his throne unto his own, his anthem raise.

So exalt, lift up on high the name of Jesus.

Magnify, come glorify Christ Jesus, the King.

Majesty, worship his majesty,

Jesus who died, now glorified, King of all kings.

23 Mei 2008

16.28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s