Never Been There…Yet!

Stop! Cukup! Ini sudah keterlaluan. Bukan begini seharusnya mereka memperlakukanku.. Aku sudah muak. Segera ku tinggalkan mereka yang tertawa-tawa puas melihatku. Maunya sih lari tapi rasanya tak mungkin berlari di dalam kerumunan orang yang berlalu lalang. Dengan menahan air mata yang mau tumpah aku hanya berusaha terus melawan arus manusia yang datang dari arah yang berlawanan.

“Mana sih pintu keluarnya?”, gerutuku sambil terus menembus dan sesekali menabrak orang-orang yang ada di depanku. Rasanya jalan yang aku tempuh tidak memiliki ujung. ”Kenapa mereka meletakkan pintu keluar jauh sekali?”, kataku dalam hati sembari terus menghindari tatapan orang yang mulai memperhatikanku. Masih dengan pakaian kantor, lengkap dengan sepatu kets dan tas cangklong. Seharusnya bukan pemandangan yang aneh. Tapi kenapa mereka memandangku dengan cara seperti itu?

Akhirnya kakiku tak kuat lagi. Tak terhitung berapa anak tangga sudah ku turuni. Rasanya kaki sudah mau patah dan tubuh ini sudah mau menyerah, jatuh bebas di lantai. Sekali lagi aku menabrak seseorang dan kali ini orang itu tidak membiarkan aku melewatinya. Tiba-tiba aku mendengar suaranya.

”Cinta, sedang apa kamu disini?”, suara itu terdengar begitu lembut.

Mataku begitu berbinar melihatnya. Bendungan itu akhirnya bobol juga. Aku tak kuasa menahan tangisku di depannya. Tapi aku tidak mau dikira anak hilang yang akhirnya ditemukan dengan serta merta menghambur ke dalam pelukannya sambil menumpahkan segala keletihan yang bercampur air mata dan amarah. Akhirnya…tepat dibelakang suara itu aku melihat pintu keluar. Tapi suara itu dan pertanyaan yang diajukan kembali membuatku limbung. Segera dia menangkapku dan membawaku ke…entah kemana. Aku hanya ikut langkahnya saja. ” Kalian duluan. Nanti aku nyusul”, katanya entah pada siapa.

Kami duduk di sebuah tempat yang memiliki beberapa kursi dan meja. Aku tahu dia akan mengulangi pertanyaan itu. Sedang apa aku disini. Tapi tidak. Kusesap minuman yang tadi sempat dia bawakan. Dia terus menungguku sampai aku bisa mengatur nafasku yang tadi begitu terengah-engah. Suasana disekitar cukup tenang hingga aku menarik nafas panjang dan mengumpulkan segenap kekuatanku untuk akhirnya mengatakan isi hatiku.

” Mereka, teman-temanku tahu bahwa aku belum pernah ke tempat ini. Mereka sudah sering mencoba mengajakku dengan berbagai alasan. Mulai dari berburu barang diskonlah, cari propertilah, sampai nonton Denias bareng. Tapi aku menolak itu semua…Mereka heran karena aku belum pernah ke tempat ini, padahal kan dekat. Mereka juga tidak percaya kalau aku benar-benar belum pernah menginjakkan kaki kesini, jangankan tangga terluarnya, bahkan di pelataran parkirnya saja aku belum pernah…”

Terlihat raut muka kebingungan di wajahnya tapi aku tetap meneruskan perkataanku.

” Mereka sudah tahu alasan kenapa aku belum pernah ke tempat ini…tapi….” mataku mulai terasa panas kembali, ” mereka sengaja menjebakku sehingga akhirnya aku ada disini….” Kembali pertahananku hancur. Aku berusaha menahan ledakan tangis hingga dia merangkulku dan akhirnya T-shirt kesayangannyapun terkena tumpahan cairan yang keluar dari mata dan hidungku. Rasanya nyaman sekali dirangkul seperti itu. Kalau boleh ingin selamanya ku miliki kehangatan itu. Sentuhan yang menenangkan hati menenteramkan jiwa. Tapi aku tersadar aku masih harus menjelaskan padanya misteri ini.

” Aku tahu…pasti tidak ada orang yang percaya kalau aku memang belum pernah ke tempat ini. Aku tahu…aneh bagi mereka mengetahui hal itu. Walau aku tidak tahu apa yang membuat mereka seperti itu. Apa hebatnya tempat ini sehingga aku harus kesini? Karena punya twenty one? Karena terbesar di kota ini? Semua tidak ada pengaruhnya buatku…..”

Dia masih tetap sama. Sabar mendengar setiap kata yang keluar dari mulutku yang kerap diselingi dengan isak disana-sini.

” Ya, aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan ke tempat ini. Suatu saat…yang aku juga tidak tahu kapan….. Tapi tidak seperti ini caranya….” tubuhku kembali berguncang tapi tidak lama. Aku letih. Sangat letih jika mengingat kembali kejadian tadi. Aku harus menyelesaikannya! Kembali ku tarik nafas panjang dalam-dalam. Ini harus selesai! Bahkan jikalau bisa ku katakan dengan satu hembusan nafas akan aku lalukan.

”Aku.. aku..sengaja menolak semua ajakan mereka karena dalam bayanganku aku akan ke tempat ini untuk pertama kalinya bersama dengan seseorang dan itu yang aku nantikan. Aku tidak tahu apakah itu pada saat pagi, siang, sore atau malam. Tidak tahu juga apakah itu saat Natal, Tahun Baru, Valentine, Imlek, Paskah, Agustusan, Lebaran atau bahkan bukan saat libur. Aku tidak dengan rinci membayangkan bagaimana suasana dalam tempat ini saat aku dan seseorang itu bergandengan tangan berjalan menyusurinya. Tapi dengan jelas sekali aku bisa merasakan kehangatan terpancar dari setiap langkah kami. Cinta dan kasih melimpah dengan rona merah terbias di sekitar kami dan tempat-tempat yang kami lewati. Ada kebahagiaan tergambar jelas sehingga seakan aku bisa melihat sulur-sulur hijau cantik berbunga aneka warna tumbuh dari tiap petak lantai yang kami pijak. Aku tidak tahu apakah kami berhenti untuk makan, minum, membeli sesuatu atau yang lainnya. Yang ada dalam bayanganku hanyalah aku ada bersamanya di suatu saat di tempat ini….dan itu adalah yang pertama kalinya aku ke tempat ini..dan aku sengaja menyediakan saat pertama itu untuk impian ini… Hanya untuk impian ini….”

Rasanya seperti balon yang dilepas di udara, sehelai bulu yang melayang, …. Aku merasa begitu ringan setelah mengatakan semuanya. Kali ini aku bisa mengendalikan emosi dalam tangisku walau tidak bisa menahan air mata ini untuk tidak menetes. Satu-satu butir hangat itu jatuh tapi aku bisa merasakan dinginnya saat dia mengusap butir itu dari wajahku dengan ujung jarinya. Aku tidak bisa menolak tapi aku tidak mau seperti anak kecil yang tidak bisa mengusap air matanya sendiri. Dengan perlahan punggung tangankupun ikut menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada. Ku gosok-gosok mataku seakan ingin menghilangkan bekas kesedihan disana. Sesaat aku hanya bisa melihat kegelapan didepanku. Dia tidak terlihat. Kerjap-kerjap mata. Perlahan aku mulai dapat mengenali sekelilingku lagi. Ada Brownie dan Cokelat duduk terdiam disana dengan kecemasan tersirat dimata mereka. Cokelat adalah boneka beruang kecil yang berwarna sesuai dengan namanya. Brownie sebenarnya tidak sedang duduk karena dia adalah boneka kura-kura.

”Kok ada kalian?”, tanyaku”…dia mana?”

Hari masih gelap. Aku terbangun dari mimpi. Udara dingin berhembus dari sela-sela jendela di atas kepalaku. Menghembuskan sedikit kesegaran ke dalam otakku. Air mata itu masih ada. Sedih itu masih di sana. Ku peluk kedua teman baikku dan kembali kurasakan kehangatan pelukannya… Impian itu. Apakah dia sudah mengetahuinya? Apakah aku sudah dengan jelas mengatakannya? Apakah impian itu akan jadi kenyataan? Impian itu… ”Aku akan terus menyimpannya.” Sebuah tekad dan bukan impian telah tercipta atas sebuah impian. Kali ini bukan mimpi, karena aku yakin Brownie dan Cokelat dapat melihat secercah senyum bersinar terang dalam gelap pagi itu.

1 Feb 07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s