Walking

Minggu, 9 Sept 07

21.31

Aku kenal seorang Bapak. Perjumpaan pertamaku dengan beliau adalah waktu beliau ngajar di sebuah kelas yang aku ikuti. Disitu aku belom tau kalo siapa sebenernya Bapak ini. Setelah ngajar itu dan beberapa waktu kemudian aku baru tau kalo ternyata Bapak ini adalah salah satu idolanya temenku. Apa sih yang buat temenku mengidolakannya? “Dia itu keren pas ngajar…membuat sesuatu yang rumit jadi simpel.” Gitu kata temenku. Iya juga sih…pembawaannya juga tenang dan kalem tapi bukan pendiam.

Itu sekitar 5 tahun lalu. Setelah itu Bapak ini gak pernah lagi ngajar. Tapi pernah jadi pembicara di salah satu seminar dimana aku jadi panitianya. Dari situ aku baru tau lagi kalo ternyata beliau tuh salah satu pembicara yang cukup terkenal. Dia katanya spesialis bawain tentang kepemimpinan. Wah, makin meneguhkan kekaguman temenku deh. Iya juga sih…beliau tuh wibawa banget.

Dan sekitar 1,5 tahun lalu. Aku dengar kabar bahwa Bapak ini akan bergabung bersama dengan kantorku. Huwah…andai temanku tau…pasti deh bakal tiap hari ikut berangkat ke kantor cuma mo lihat beliau aja. Tapi sayang, temenku dah pindah ke sebuah pulau nun jauh di sana. Akhirnya, jadilah beliau satu atap denganku. Tapi….ada satu hal yang sedari awal sudah mengusik hatiku. Satu pertanyaan : “Kenapa beliau bergabung?”. Bukan apa2,…aku melihat kok kayaknya gak ada bagian dalam kantor yang aku lihat sesuai dengan yang selama ini dah beliau lakukan. Kan kayaknya eman2… beneran aku bertanya2 ttg itu dari awal.

Bulan demi bulan berlalu. Aku senang bisa mendengar beliau mengajar lagi. Di kantorku setiap Senin awal bulan ada pertemuan bagi seluruh karyawan. Di pertemuan itu ada orang yang ditunjuk untuk membawa materi untuk disampaikan. Materinya diambil dari buku2 yang juga diterbitkan oleh kantor (hehehe,,,,ajang promosi juga, tapi seru, aku jadi bisa tau apa isi buku itu sebelum membelinya). Beliau waktu itu membawa materi dari judul buku terbaru yang diterbitkan kantor. And you know what? Aku diminta oleh temenku yang nyiapin power point presentation untuk memberikan briefing ke Bapak! Doeng! Gimana gitu…kayak ngajarin master catur dunia ttg cara buka papan catur. Kalo buat presentasi dan membawakannya sendiri sih aku dah biasa, tapi ini harus ngejelasin presentasi yang dibuat oleh orang lain ke orang yang lain juga….Agak grogi juga waktu itu. Tapi aku salut sama Bapak karena dia punya sifat rendah hati. Mau dengerin penjelasan aku ampe selesai bahkan sempet diskusi juga. Akhirnya presentasi pun sukses dilakukan.

Beliau juga mulai dilibatkan lagi untuk ngajar di kelas seperti yang pernah aku ikutin dulu. Sekarang aku yang buat jadwal dan rasanya mantab banget nempatin nama Bapak ini sebagai pengajar dari salah satu materi. Ternyata salah satu temenku ngasih tau Bapak ttg satu hobi baruku yang suka buat PPT. And you what again? Beliau memintaku untuk memperbaiki dan membuat tampilan bagi presentasinya! Padahal menurutku tampilan itu dah cukup baik (aku pernah melihatnya). Lalu mau seperti apa lagi? Tapi beliau bilang karyaku beda dan itu yang sedang dia butuhkan (heem…temenku tuh ngomong ap aja yah?). Lalu aku menyanggupi namun tidak bisa dengan segera aku kerjakan karena masih ada hal lain. Beliau setuju karena presentasinya juga tidak untuk digunakan dalam waktu dekat.

Dan sekitar 3 bulan lalu. Aku mulai mendengar kabar bahwa beliau akan pindah ke Jakarta. Ke tempat yang memang sepertinya sesuai dengan kerinduannya selama ini. Rencananya pindah tahun depan. Tugas yang harus kukerjakan belum juga aku mulai. Bapak juga gak kasih masternya. Malahan beliau ngasih point2 dari sebuah buku yang bukan termasuk buku baru untuk aku buatkan power pointnya. Dan…itu pun masuk waiting list hal2 yang akan ku lakukan (kok waktu itu juga gak dibilang deadlinenya?)

Akhirnya akhir Agustus lalu. Kepindahannya ternyata dipercepat jadi awal September karena permintaan dari Jakarta. Bapak secara resmi sekaligus gerilya datang ke tiap departemen untuk pamit. Disitu pula secara lengkap beliau cerita tentang pergumulan yang dia hadapi selama setahun terakhir yang akhirnya berbuah pada keputusan untuk pindah ke Jakarta. Bekerja bersama dengan kantorku adalah waktu terpendek sepanjang sejarah beliau bekerja. Cuma 1,5 tahun. Sebelumnya beliau dah pernah kerja 15 tahun dan 4 tahun di dua tempat berbeda. Tapi aku seneng banget denger endingnya kalo akhirnya dia berjalan semakin dekat dengan panggilan hidupnya. Sesuatu yang sudah dia pikirkan dan doakan sejak masih mahasiswa dan selama bekerja di berbagai tempat. Sesuatu yang dia tau bahwa Tuhan ingin dia memberi kontribusi melalui talenta yang sudah diberikan oleh Tuhan sendiri.

Alangkah senangnya jika kita sudah mengetahui dengan jelas apa yang Tuhan mau kerjakan didalam dan melalui hidup kita di dunia ini. Buat Bapak butuh waktu sepanjang itu sampai akhirnya beliau mulai masuk di dunia kerja yang sesuai dengan talentanya. Pasti sudah banyak doa, pertanyaan, masukan, nasehat dan perenungan yang mengiringi lahirnya keputusan untuk pindah.

Aku ingin berjalan semakin dekat. Melakukan bagianku di dunia pada generasiku sesuai dengan apa yang sudah Tuhan berikan. Sudah banyak teladan dalam hidupku yang mau dengan taat dan setia menjalani hidup memenuhi panggilannya. Ternyata gak segampang kalo dah liat akhirnya. Tapi aku mau menjadi seperti mereka. Melangkah dengan berani. Yakin bahwa ada kuasa yang lebih besar yang mengawali dan selalu menjagai. Asal aku mau taat dan setia. Berjalan semakin dekat.

Met kerja di tempat yang baru ya Pak…

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s