Namanya…HOPE!

Opung berkata bahwa beliau masih bertahan hidup sampai sekarang karena harapan. Tiap hari selalu ada ada harapan baru. Kebenaran yang mengejutkanku. Semudah itu?

Sebuah produsen permen membungkus permen dengan kata-kata motivasional. Aku masih menyimpan satu yang bertuliskan: “Masih ada harapan”. Sebenarnya permen itu pingin banget ku kasih ke seorang temen. Tapi dia gak suka permen. Aku bilang liat kemasannya. Tapi waktu itu tulisannya beda. Sekarang, waktu harapan ingin diberi aku sudah kehilangan jejaknya.

Dalam sebuah kesempatan hadir di sebuah tempat, teman-teman memberikan cinderamata. Sebuah penghias ruangan berbentuk salib yang bisa diletakkan di atas meja. Tau apa tulisan yang tertatahkan di atasnya? HOPE.

Masih banyak lagi denyut harapan yang kurasakan tiap saat, tiap hari. Waktu menikmati terpaan angin campur gerimis di lantai 3 Gunung Batu. Waktu duduk mendengarkan seminar berbahasa Inggris full seharian. Waktu melihat lampu kota di atas bukit di kejauhan. Waktu tergesa-gesa mengejar kereta (padahal tuh kereta juga gak kemana-mana kok). Waktu menembus malam membelah gunung menuju Yogya.

Kalo kata orang Love is in the air, maka dia gak sendirian. Karena ada HOPE di sana. Itu yang kurasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s