Footnotes

footnotesMasih dari KK. Buku ini ada di deretan buku baru. Penasaran lihat halaman depannya. Buka-buka bagian dalam, foto-foto dan keteranganya. Temen dah selesai lihat di bagian komik. Karena masih penasaran maka aku akhirnya meminjamnya.

Aku sengaja baca 3 bab terakhirnya. Gak tau kenapa. Habis itu baru dari awal. Itupun beberapa hari setelahnya. Bahasanya sederhana. Kalo dalam bahasa Swedia seperti apa ya? Kisahnya gak ngejelimet untuk dimengerti.

Aku suka sama bagian dimana Lena bilang bahwa sedari dia kecil, Ibunya sudah bisa melihat bahwa Lena punya naluri untuk bahagia. Pilihan kata yang menarik! Naluri untuk bahagia. Entah itu memang arti sebenarnya dari terjemahan bahasa Swedia atau sudah melalui proses edit. Biasanya kalo ngomentarin anak kecil itu yang suka dilihat adalah udah punya bakat gemuk atau sifat pemalu atau kebiasaan tertentu de el el. Ini anak kecil yang punya naluri bahagia. Kalo Ibunya yang punya naluri bahwa anaknya akan bahagia kelak mungkin masih bisa diterima juga. Bukan berarti aku gak nerima apa yang dikatakan eh dituliskan oleh Lena. Menarik aja pilihan katanya.

Mungkin naluri itulah yang membuat dia juga menjadi seperti apa dia sekarang. Tentu saja iman, harapan dan kasih yang dia dapat dari keluarga juga turut membentuknya sedari kecil dan selama masa pertumbuhannya.  Selama aku baca bukunya ini, sangat jarang dan malahan hampir gak pernah, dia mengeluh karena kondisinya. Semuanya selalu ditanggapi dengan positif. Memang ada beberapa pemikiran dan kekuatiran tetapi tidak membuat dia menjadi pribadi yang negatif. Jujur, aku jadi merasa agak malas membacanya. Kamu ngerti maksudku? Ya, gak papa juga kalo memang dia seperti yang dia tuliskan. Tapi kalo mengikuti alur kisahnya, aku tidak dapat melihat titik klimaks dari masa hidup yang dia ceritakan. Sepertinya semua sama. Oh, mungkin ada bagian yang, mungkin, menjadi titik balik dia dalam proses menyadari apa tujuan dia dalam menjalani semua kehidupan dan aktivitas dia selama ini. Tetapi aku tetap merasakan hilangnya bagian-bagian kecil penting lain yang tidak tersampaikan.

Selain itu, memang ditulis pula oleh Lena bahwa sangat berlebihan jika mengatakan Footnotes sebagai “memoirs” atau kisah hidup. Walo itu pun bisa dikatakan benar adanya. Lena menambahkan bahwa ceritanya hanyalah sebuah catatan dan komentar dalam hidup yang sudah dia jalani. Yang pertama kali aku cari adalah tahun waktu Lena lahir dan aku tidak menemukannya! Tahun-tahun selanjutnya dalam ceritanya tidak terangkai dengan urut, aku rasa. Mungkin karena aku orang yang suka sama pelajaran sejarah, bagiku penanggalan itu lumayan penting. Dari situ aku bisa tahu kapan dan apa yang terjadi pada saat itu. Kalo maksudnya menceritakan hidup yang dia jalani sebaiknya tahun-tahun penting juga dicantumkan.

Yang mengejutkan lagi, karena aku bacanya dari bagian akhir, aku pikir dia sekarang masih terus tinggal bersama suaminya. Tapi pas aku baca bagian prakata, aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa ternyata Lena sudah berpisah dengan suaminya setelah 10 tahun hidup dalam pernikahan. Aku kaget aja. Jadi inget waktu pertama kali tahu tentang berita perceraian seorang yang aku anggap sebagai panutan. Saat itu aku gak ngerti apa, kenapa dan bagaimana perceraian itu. Ya, kira-kira walopun dah lama banget kekagetan itu ku alami, aku masih aja kaget waktu baca prakata dari Lena itu. Aku gak tau apa mungkin sebenernya ada buku selanjutnya yang merupakan kelanjutan cerita dari Footnotes. Sayang kalo berhenti sampe situ aja.

Buku itu kan ditulis tahun 1996. Sampai sekarang dah diterjemahkan ke banyak bahasa. Tiap terjemahan baru mau terbit, Lena pasti diminta untuk menuliskan prakata dan disitu juga dia kasih berita terbaru darinya. Dari situ juga aku tau alamat web Lena. Itu dia tempat dimana kita bisa dapet yang terbaru dan terakhir dari Lena. Hari ini aku membukanya dan ternyata dalam bahasa Swedia. Thanks to Google Translete, maka aku bisa baca dalam bahasa yang aku mengerti. Dari apa yang ada di web aku gak bisa dapet banyak kisah seperti yang dia tulis di buku. Well, memang belum aku telusuri semua sih. Dari blognya aku tau kegiatan apa aja yang sudah dia lakukan tapi aku gak dapetin kisah selanjutnya tentang dia, apa yang dia pikir, alami dan rasakan. Tidak sedalam waktu baca bukunya.Trus, waktu cari gambar bukunya di Google, aku dapat yang ada keterangan kalo Lena akan datang ke Indonesia Agustus 2009. Itu kan bulan ini! Mungkin mau promosi juga. Bukunya kan baru Mei 2009 dirilis di Indonesia.

Tetap, Lena adalah salah satu bukti kedaulatan dan kesetiaan Tuhan kepada manusia. Tidak bisa terkatakan dan tidak akan bisa terbantahkan deh. Itu bagian yang makin meneguhkan dari buku ini. Bukan sesuatu yang baru, beda dengan apresiasi yang diberikan oleh orang-orang Jepang. Itu bisa dimaklumi karena nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang Jepang memang seperti yang dituliskan Lena. Mereka malu kalau ada anggota keluarganya yang cacat. Orang-orang yang punya kekurangan fisik akan dianggap tidak ada. Mendapat perlakukan yang tidak baik dan pantas sebagai manusia. Hm.. Jepang…

Hahaha, ini bagian yang menurutku gak kalah  pentingnya… Aku salut sama semangatnya dalam bernyanyi. Sekolah musik, keliling dunia dengan nyanyian…Wow…mau! Udah gitu dia juga udah berkali-kali ke Jepang… MAU!!🙂

Satu tanggapan untuk “Footnotes”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s