The Love Dare

TheLoveDare_FNL_TP_CVR

Akhirnya buku ini difilmkan…

Heheheh… mungkin difilmkan bukan kata yang tepat. Tapi dengan masuknya buku The Love Dare ke dalam film Fireproof membuat promosi akan buku ini bertambah luas. Apalagi tema dari filmnya pas banget mengenai bagaimana mempertahankan sebuah pernikahan.

Kayaknya belum ada dalam bahasa Indonesia ya???

Pertama kali aku pegang dan baca buku ini adalah waktu diajak temenku yang orang penerbitan untuk ikut menemui seseorang yang, aku lupa istilahnya, menjadi perantara penerbit asli buku dari luar negeri untuk diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. Itu sekitar tahun lalu atau dua tahun lalu yak? Pertemuan diadakan di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Waktu itu pas ada pameran buku juga di Senayan dan baru akan dibuka sore hari. Jadi aku dan teman-teman yang baru tiba pagi di Soekarno Hatta bisa janjian dulu siangnya sebelum nanti sore ikut pembukaan pameran.

Ternyata, temanku ini belum pernah bertemu dengan perantara ini sebelumnya. Aku, dan 3 orang temanku ini akhirnya cuma bisa menebak2 dari penampilan orang2 yang lalu lalang di lobby hotel. Kata Mbak resepsionis sih orangnya masih di kamar. Kita minta tolong untuk dipanggilkan karena sudah janjian sebelumnya. Sebenar2nya sih kami yang terlambat datang. Kira2 hampir 1 jam lamanya.  “Tapi siapa sih yang gak percaya kalo kita bilang terlambat datang karena macet…”, gitu kata temenku yang bawa mobil.

Dua kali dihubungi, baik oleh mbak dan mas resepsions atau oleh temanku sendiri. orang yang kami tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Aku jadi orang yang ditugasi berdiri dan melihat setiap orang yang keluar dari lift. Haha! Kurang kerjaan banget deh… mana aku tau juga yang mana orangnya??? Mana nguantuk banget lagi…. Dari YK dah kurang tidur, check in pertama jam 5an (karena lebih dekat ke bandara), gak bisa tidur di pesawat.. sekarang nungguin orang yang yang gak dikenal!!

Akhirnya dari tanda-tanda yang cukup masuk akal yang diberikan oleh temanku, kami menemukan orang yang dimaksud. Ternyata beliau bukan bule tetapi keturunan entah Korea, Jepang atau China..aku lupa. Pas kenalan juga aku gak terlalu jelas mendenagr namanya. Dia datang tergopoh2 sambil bawa 2 file besar yang berisi contoh2 buku yang ingin diperlihatan. Kami pun menuju tempat duduk yang disediakan oleh pihak hotel.

Ternyata orang ini sudah melewatkan waktu makan siangnya karena menunggu kedatangan kami (padahal kami sempet makan loh sebelum ke hotel). Temenku merasa sangat tidak enak sekali apalagi saat kami diminta untuk ikut makan bersama. Ditolak dengan halus oleh temanku. Maklum, alasan kesopanan (atau basa-basi?). Tapi perantara ini serius mau ngajak karena memang dia lapar. Tapi sekali lagi ditolak temanku. Maka dia pun pesan minuman dan tetap menawarkan kami. Aku sebenernya gak tau mo pesen apa karena nama menu minumannya aneh2.. Hahaha… wong ndeso! Akhirnya kami pesen air mineral.

Disitu dia keluarkan buku2 yang dia bawa. Ya ampyun…. bagus2!!!! Mataku langsung tertuju ke buku The Love Dare. Really judge the book by it’s cover.. Haha!… Simple, good color, nice font.. perfectlah buat aku. Apalagi judulnya yang menantang orang untuk membacanya. Sementara temen2ku melihat buku2 untuk anak2 dan lain2 aku terus membaca buku ini. Ternyata untuk pernikahan…tapi seru membacanya. Dan ternyata gak bisa cuma dibaca tapi harus dipraktekkan. 40 days! Wah…. aku jadi pengen banget (ikut) mempraktekkannya karena aku pikir melakukan hal2 sederhana yang ditulis di buku itu gak harus nunggu sampe pernikahan goyah. Well… secara saat itu aku belum menikah, aku cuma memorize beberapa hal aja yang aku pikir bisa jadi contoh bagus untuk pelajaran di hari depan nanti. Heheheheh….😆

Sayang, sepertinya buku itu tidak termasuk yang dipilih oleh temanku. Mereka punya kriteria sendiri dalam memilih buku yang mau diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. Sementara itu aku cuma bisa memandanginya aja. Gak ada buku yang bisa langsung dibeli saat itu karena semuanya hanya sample. Bahkan nanti pun di pameran, orang ini tidak menjual buku tetapi hanya memamerkan saja.. Hahaha.. tepat seperti judul acaranya. PAMERAN.

Maka gak kerasa hari makin siang beranjak sore. Kami masing2 harus bersiap kembali ke Senayan. Kenalan baru kami ini juga harus segera kembali ke kamarnya (dan dia masih ingin tetap makan dulu sebelum ke Senayan). Maka dengan agak tergesa-gesa dia buru2 pamit pergi meninggalkan kami di lobby. 3 orang teman2 masih berbincang2 mengenai hasil pertemuan dan lihat2 buku tadi sambil perlahan kami juga meninggalkan lobby menuju pintu keluar hotel yang letaknya agak jauh dan melewati lorong yang ditata dengan indah. Tiba2 kami dikejar dan dipanggil oleh pelayan yang tadi membawakan kami minum. Ternyata minuman itu belum dibayar!!! Hahaha…😆 maluuuuuu… Ya udah, dengan tabah, temanku yang juga satu2nya pria diantara kami digiring menuju kasir. Kami yang nunggu cuma bisa ketawa2 sambil terus mempertanyakan kok bisa..kok bisa… Akhirnya, 1 temanku menyusul karena teman pertama tadi tak kunjung datang. Ternyata uangnya yang ada di dompetnya gak cukup. Walah! Pas lihat struk harganya… aku kaget..karena ini pertama kalinya aku minum air mineral termahal sepanjang umurku..!!(maka dari itu aku masih simpen botolnya sampe sekarang plus air di dalamnya yang memang sengaja tidak aku habiskan… :-p)

Kami masih tertawa2 sambil meninggalkan lobby dan kembali ke lorong saat kemudian kami mendengar langkah kaki yang berlari. Ternyata, teman baru kami ini baru sadar setelah sampai kamar bahwa dia belum bayar minumannya. Kami serempak terdiam menahan tawa. Dia merasa tidak enak sekali karena tadi dia yang menawarkan untuk membeli minuman. Teman saya bilang tidak apa2 (itung2 satu sama sekarang). Tapi orang ini bersikeras, bahwa dia akan menggantinya. Sambil becanda (tapi kok kayaknya serius..) temanku bilang nanti aja traktir makan malam di pameran. Dia setuju sambil tak henti2 minta maaf dengan membungkukkan badannya kepada kami dan akhirnya kembali ke kamarnya lagi (oh… apakah dia keturunan Jepang?? masih lupa..). Tawa kami meledak lagi setelah bayangan orang tadi menghilang. Sampe beberapa hari setelah kejadian itu aku masih saja tertawa kalo mengingatnya. Apalagi kalo melihat botol kaca air mineral muahhhal yang sengaja aku pajang di rak..🙂

Yah… itulah kenangan yang bisa ku ingat dari buku The Love Dare ini. Gak nyambung banget kan sama isi bukunya.. Hm.. andai buku itu terpilih saat itu.. Bakal seperti apa ya jadinya sekarang? Mungkin bisa aja film itu juga akan jadi ajang promosi pemasaran buku. Diputar di gereja-geraja, persekutuan, PMK (terlalu cepat?).. Ada seminar-seminar… Wah… bakalan seru!

Udah ada belum sih dalam bahasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s