Selamat Panjang Umur

Selamat ulang tahun kami ucapkan… Selamat panjang umur kita ‘kan doakan…Selamat sejahtera sehat sentosa… Selamat panjang umur dan bahagia… Selamat panjang umur dan bahagia!

Ada 3 ucapan selamat panjang umur dalam lagu itu. Kenapa ya? Hm.. Aku mungkin mesti tanya sama penciptanya. Ada yang tahu siapa pencipta lagu ini?

Bener gak kita semua mau panjang umur? Kok ada temenku yang gak mau berumur panjang dan bertambah tua dan menjadi renta? Tadi dia bilang bahwa dia gak mau temen2 nyanyikan lagu itu nanti kalo dia ultah. Waktu dia bilang keinginnannya ini sontak semua tertawa. Aneh aja deh. Yang laen pada seneng kalo masih bisa ulang tahun karena artinya masih diberi berkat hidup sama Yang Mahakuasa eh kok dia malah nolak2. Hm.. kenapa sih emangnya? Apa udah bosan hidup? Atau sudah merasa cukup untuk merasakan indah dan kejamnya dunia? Ya, aku sih sori-sori aja lah ya.. Masih muda. Masih belum melihat dunia. Masih mau senang2. Aku masih memikirkan hal itu sampe sekarang.

* * *

Ibu mertua sekarang tinggal bersama keluargaku. Entah alasan apa yang membuatnya ingin bersama-sama dengan kami. Dari tingkat perekonomian, jelas masih ada anaknya yang lain yang lebih mampu dari kami. Akupun masih tidak mengerti.

Ibu sudah sangat berumur, 91 tahun. Banyak sudah yang tidak bisa ibu lakukan tanpa bantuan orang lain. Sulit sangat untuk dapat menolong ibu menjalani hari-harinya. Kesibukanku dan orang-orang rumah kerap membuat kami harus meninggalkan ibu. Tidak benar-benar meninggalkannya seorang diri tapi tidak juga menjadi orang yang selalu siap untuknya. Sebenarnya aku tidak tega, tapi akupun tidak bisa melakukan lebih. Untuk menggaji seorang yang khusus merawat dan memperhatikannya, kami tidak sanggup.

Hatiku bergumul dengan hebat. Pertanyaan berkelebat di benakku, “Kalau Tuhan mengizinkan ibu hidup sebegitu lama, apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui hidup ibu? Apakah ibu belum siap dan ini berarti adalah waktu untuk mempersiapkan diri? Bagaimana dengan orang-orang yang nanti akan ditinggalkan?”

Sudah 11 tahun ibu tinggal berpindah-pindah dari rumah anak yang satu ke yang lain. Setiap tahun keadaannya semakin melemah. Melihat dan merasakan sendiri kondisi ini akupun bertanya pada diri sendiri, “Apa yang dapat aku lakukan, terutama dalam menolong ibu bersiap pulang?”

Aku teringat 11 tahun yang juga pernah aku jalani bersamanya. 11 tahun yang terasa lebih lama dari yang sebenarnya bagiku. Waktu-waktu dimana aku tinggal bersamanya setelah aku menikah. Luar biasa penyertaan Tuhan bagiku, bahkan sampai saat ini aku tak hentinya-hentinya mengucap syukur untuk segala yang sudah terjadi.

Dan kini… Tuhan tahu bagaimana hatiku. Terhadap ibu, terhadap kenyataan ini dan kepada Tuhan. Mungkin aku lakukan semua untuk ibu dengan terpaksa, namun aku terus berharap pada-Nya bahwa dalam keterpaksaanku itu tidak dipandang salah di hadapan-Nya. Hatiku masih bergumul sangat. Tiap hari adalah perjuangan bagiku. Dengan pertolongan-Nya, aku terus berkata bahwa yang aku lakukan ini adalah semua untuk Tuhan, hanya atas dasar kasih bagi-Nya. Dia yang sudah memberikan kasih karunia padaku, maka aku juga mau menjadi sarana kasih karunia bagi ibu mertuaku.

* * *

Aku tidak mau menjadi tua. Aku tidak mau menjadi renta. Itu bukan karena aku tidak mengucap syukur pada Tuhan atas umur yang Dia beri. Bukan itu. Aku tidak mau menjadi tua dan pada akhirnya nanti merepotkan anak-anakku atau bahkan orang lain. Karena itu yang sedang kualami kini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s