Joshua Chapter 1 (Part Two)

Selasa, 18 Okteber 2011

15.42

Oke, kalau tentang Yosua.. Dari yang di dapat oleh teman2 ada beberapa yang kuingat.

  1. Apakah kita sedang menghadapi perang yang memang diperuntukkan bagi kita? Atau kita sedang berperang padahal sebenarnya itu bukan perang milik kita?
  2. Mengapa orang2 Israel berkata,” Allahmu..” kepada Yosua?  Kalau pake bahasa batak: “Asalma..” jadi kayaknya bener2 mereka gak tahu dan gak terhubung dengan Allah yang disembah Musa dan Yosua. Apakah pengalaman selama  40 tahun di padang gurun itu kurang bagi mereka untuk mengenal siapa Allah? Atau… seperti dugaan bahwa hanya generasi pertama dari bangsa Israel yang keluar dari tanah Mesir yang mengenal Allah dan berpengalaman dengan-Nya. Setelah generasi itu habis, lahirnya generasi-generasi berikutnya yang hanya mendengar kisah tentang bagaimana Allah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan segala kuasa-Nya.
  3. Jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri. Bagaimana mengetahui kanan dan kiri itu?

Dari pertanyaan-pertanyaan perenungan di atas aku mendapati bahwa:

  1. Penting bagiku untuk mengetahui apakah memang yang sedang ku hadapi ini adalah bagianku atau bagian orang lain untuk diperjuangkan. Caranya tidak lain tidak bukan adalah dengan semakin mengenal-Nya dan kehendak serta rencana-Nya dalam hidupku. Baca Alkitab. Bangun hubungan pribadi tiap hari. Doa. Hmm… very simple thing yet so powerful.
  2. Penting bagi tiap generasi untuk mengenal dan mengalami Allah secara pribadi. Teringat Oi dan adek2 disana. Harus ada yang menceritakan dan memperkenalkan mereka kepada Yesus. Mereka juga harus mengalami Allah secara pribadi, bukan hanya kata guru sekolah minggu, kata mamak, bapak, opung de el el. Doa juga penting dalam mengiringi proses itu. Tiap generasi ada warnanya masing2 dan tiap warna itu mempengaruhi bagaimana pengenalan seseorang akan Allah. Perubahan jaman, teknologi, segalanya… berdampak dalam proses pemberitaan berita mengenai Allah. Baru baca bukunya George Barna, Menumbuhkan Murid-Murid Sejati dan terpaku pada kalimat berikut ini: Jika kita serius melayani orang lain, kita tidak akan meminta temapt dan waktu yang lebih baik lagi dalam sejarah untuk hidup. Wow. Itu bicara lebih dari hanya melayani orang lain. Buatku itu berbicara tentang mengenalkan juga Allah yang merindukan kita untuk melayani Dia dan bersama-sama Dia bagi kemuliaan-Nya.
  3. Kita perlu hikmat untuk mengetahui hal itu.

Well, rasanya menyenangkan.. :)  Tentu masih akan ada banyak lagi temuan.. Tunggu saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s