Sekarang Aku Tersadar..

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca yang lain. Dan juga sebagai pengingat bagi saya untuk masa yang akan datang. Jarang-jarang saya akhirnya mau diam dan menuangkan pemikiran dalam tulisan, terutama di waktu-waktu belakangan ini. Tulisannya mungkin tidak beraturan. Sulit dimengerti. Alur tidak jelas. Kiranya yang membaca bisa melihat ungkapan hati saya. Karena yang saya coba bagikan adalah bukan dari kepala ke kepala tetapi dari hati ke hati.

———————————————————————————————————-

Dalam kesempatan ke Toraja beberapa minggu lalu mengenal seorang ibu. Dia orang yang sederhana dan dalam kesederhanaannya, dia tidak tahu kalau ucapannya kala itu membuatku tersadar akan satu hal. “Kalau anak saya belum pulang ke rumah padahal sudah malam, akan saya cari kemana-mana.. Saya tinggalkan apa pekerjaan yang sedang buat.. saya cari sampai dapat… sudah ketemu, akan saya bawa pulang”. Saya termenung.

Sabtu lalu, karena terjebak hujan dan petir, saya terpaksa (dan memang tidak merencanakan, walaupun dilakukan dengan hati riang gembira) menginap di rumah salah seorang teman. Mereka sepasang suami istri yang memiliki bayi laki-laki yang 28 Februari nanti akan berusia 1 tahun. Pagi harinya, saya melihat aktivitas mereka bersama si kecil. Seketika dunia milik mereka bertiga. Bahagia meski lelah karena terjaga. Saya terkesima.

Tadi pagi, seorang teman kantor, minta cuti karena anaknya yang baru-baru ini sudah lulus sidang skripsinya datang dari luar kota. Anak ini, katanya, kalau tidak ada orang di rumah untuk diajak bicara, bisa-bisa balik lagi ke kostnya. Sementara memang semua anggota keluarga lain sibuk bekerja. Si Ibu dengan sengaja menciptakan waktu untuk dapat bersama-sama dengan anaknya. Saya diingatkan.

***

Ada masih banyak lagi hal kecil yang entah bagaimana, semuanya beresonansi dalam upaya menyampaikan sesuatu yang penting buat saya.

Saya sudah pernah belajar bahwa menjadi orangtua tidaklah pernah menjadi hal yang mudah. Tidak ada sekolah untuk itu. Yang telah saya pelajari juga adalah bahwa mereka harus siap menjadi orang yang akan selalu disalah mengerti. Saya belajar itu dari orangtua saya sendiri.

Apapun yang mereka perbuat nampaknya tidak pernah baik untuk saya. Padahal yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan saya. Saya katakan hal inipun pasti akan mendapatkan reaksi dari saudara-saudara saya yang lain. Saya pikir reaksi semacam itu wajar, karena bagaimanapun masing-masing anak unik dan mereka memiliki cara tersendiri dalam menyikapi bentuk perhatian yang orangtua berikan. Tidak ada pilih kasih. Tidak ada memanjakan. Semua sama sesuai kadarnya. Dan itupun masih direspon berbeda pula oleh masing-masing anak.

Saya tidak akan pernah lebih pintar dari mereka. Pengalaman-pengalaman melihat, mengamati dan merasakan bagaimana seseorang baru menjadi orangtua mengajari saya banyak hal yang tidak bisa saya dapat dari seminar mengenai keluarga sekalipun. Saya jadi bisa membayangkan bagaimana mereka memulai babak baru kehidupan berkeluarga, berdua, jauh dari sanak keluarga yang lain. Bertahan hidup dengan segala kondisi ekonomi yang ada. Menantikan kelahiran dari sang buah hati. Menikmati waktu bersama si kecil.. Dalam derai tawa, terselip air mata. Dalam tangis, timbul secercah harapan..

Baru sebatas itu yang bisa saya lihat dari orang-orang yang ada di sekitar saya. Penggalan lain saya peroleh dari ucapan-ucapan seperti yang dikatakan oleh ibu yang ada di Toraja dan teman kantor tadi. Yang terutama pastinya adalah pengalaman saya sendiri bersama orangtua. Samar-samar saya masih mengingat masa-masa kecil saya. Kemudian beralih ke masa remaja, dewasa… hingga sekarang. Begitu banyak kenangan yang…. kalau boleh saya katakan, tidak akan pernah cukup bagi saya untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka. Meski saya sadar bahwa saya pribadi sering salah dalam memahami mereka dan kasih yang mereka berikan.

***

Teringat kisah bangsa Mesir. Ini karena pembacaan Alkitab saya sudah kembali ke Mazmur 105. Bangsa terpilih yang bebal. Berkali-kali pergi menjauhi Tuhan, namun tetap dikasihi. Dan itu semuapun bukan karena usaha atau kebaikan dari bangsa Israel. Kalau dilihat rekam jejak kehidupan mereka, sama sekali tidak layak untuk dikasihi. Semua hanya karena kasih Tuhan.

Sedari awal, Tuhan sudah memberi contoh yang sangat jelas. Amat sangat jelas sekali Dia memberi teladan dalam hal mengasihi sesuatu, dalam hal ini sebuah bangsa. Sepanjang cerita Alkitab kasih-Nya begitu nyata. Crazy Love, kata Francis Chan.

Dan saya dengan bodohnya–namun saya harus bersyukur karena akhirnya–sadar bahwa orangtua sayapun menerapkan kasih yang sama terhadap saya dan kami semua, anak-anaknya. Melihat kembali ke belakang saya menyadari bahwa tidak ada satupun, sekali lagi, tidak ada satupun dari yang mereka lakukan yang tidak lahir dari kasih mereka kepada saya. Itu juga yang saya pelajari dari semua yang dilakukan oleh pasangan muda dalam merawat seorang bayinya.

Dulu saya juga adalah bayi yang tidak bisa apa-apa, yang hidupnya bergantung penuh pada kedua orangtuanya. Diperhatikan dengan luar biasa. Dijagai. Dicukupi semua kebutuhannya. Lama kelamaan si bayi tumbuh makin besar dan sesaat dia lupa bahwa kasih yang sama selalu tetap ada untuknya.

Saya bersyukur untuk pembelajaran ini dan saya tidak mau melupakannya sehingga saya pikir saya harus menuliskannya. Sayalah bayi itu. Sayalah yang selama ini keliru dalam menyikapi kasih orangtua. Saya yang seharusnya tidak layak untuk dikasihi sedemikian. Saya belajar untuk berkata cukup. Tidak perlu bagi saya mengatur bagaimana orangtua harus mengasihi.  Mereka telah melakukannya dengan sangat baik seumur hidup mereka. Tuhanlah yang menjadi penolong dan teladan. Masa boleh berganti. Jaman bisa berubah. Namun kasih-Nya tetaplah sama. Dulu. Sekarang. Selama-lamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s