Pencurian Listrik: Sebuah Fiksi

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan bahwa pelaku pencurian aliran listrik dapat dikenakan hukuman denda maksimal sebesar Rp. 500.000.000,- dan hukuman pidana maksimal 5 tahun. Pencurian listrik dan perusakan peralatan milik PLN juga dapat diancam pidana berdasarkan beberapa Pasal di dalam KUHP. (Selengkapnya baca di sini)

****

Alkisah hiduplah seorang bapak pencuri listrik tetangga dengan dua orang anaknya yang masih kecil. Pekerjaannya sehari-hari tidak jelas. Banyak orang yang mengira dia bertugas sebagai tukang parkir dari seragam yang dikenakannya. Tetapi, kebenaran akan hal itupun masih dipertanyakan. Terkadang dia terlihat berkeliaran begitu saja di sekitar rumah. Seharian. Bahkan sampai malam. Begitu pula dengan anak-anaknya.

Mengapa dia sampai mencuri listrik? Jelas, karena tidak ada aliran listrik resmi yang masuk ke rumahnya. Rumahnya? Itupun masih bisa diperdebatkan. Banyak yang berkata bahwa rumah itu adalah milik orangtuanya. Suatu hari bapak pencuri listrik ini datang dan begitu saja mengusir orang-orang-orang yang ada di rumah itu. Kebenarannya? Masih perlu diusut lagi.

Kembali ke alasan mengapa dia mencuri listrik. Mungkin karena tidak ada biaya untuk membayar listrik sehingga PLN memutus aliran listrik ke rumah itu. Beberapa kali usaha pencurian listrik yang dilakukannya terbongkar dan dengan cepat pula dia mencari sumber listrik lain untuk dicuri.

Dan sumber listrik baru itu adalah dari sebuah kost putri. Satu titik percabangan listrik menjadi satu-satunya harapan bagi dia dan anak-anaknya di kala surya mulai tenggelam. Kamuflasenya adalah dengan memasang lampu jalan tepat di samping kost. Begitu lampu jalan dinyalakan, terang benderang juga rumahnya. Maka pagi, siang dan malam sukseslah bapak ini dengan usaha mencurinya.

Awalnya anak-anak kost tidak menyadari hal ini sampai ketika tagihan listrik datang dan merekapun terhenyak. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menghentikan perbuatan melanggar hukum ini. Pihak-pihak yang berwajib masih enggan untuk mengambil tindakan. Rupanya bapak pencuri listrik adalah preman kampung yang cukup ditakuti, kalau bukan disegani. Akhirnya, jam berganti hari, hari berganti bulan, tidak terasa sudah 4 bulan anak kost memberi sedekah listrik.

Apakah sebenarnya anak kost ini tidak bisa berbuat apa-apa? Tidak. Mereka juga sudah gerah dan ingin melakukan lebih dari sekadar menunggu pihak-pihak yang masih enggan tadi. Maka “perang dingin” pun dilakukan. Pertama, setiap melihat lampu jalan menyala, entah pagi, siang atau… terkadang malam, langsung dimatikan. Ampuh? Tidak. Dengan cepat anak-anak kecil itu keluar dari rumah dan menyalakan kembali sakelar listrik yang memang sudah ditata sedemikian terjangkau oleh mereka dari luar. Sepertinya mereka telah dilatih dengan baik. Berkali-kali dalam waktu satu jam peristiwa padam-nyala-padam-nyala itu berlangsung.

Kedua, matikan sekering listrik utama. Anak-anak kost hanya tahu itu jalan satu-satunya, sementara ini. Siapapun orang terakhir yang meninggalkan kost dalam keadaan kosong, harus mematikan sekering. Dan hal itu bisa berlangsung dari pagi hingga menjelang malam. Gelap gulita menaungi dua rumah. Untuk menghibur diri, anak kost yang sudah pulang duluan tapi masih tidak rela menyalakan listrik, akan mengatakan bahwa dirinya sedang berempati terhadap mereka yang masih tinggal dalam kegelapan. Anak-anak kecil itu tidak dapat berbuat apa-apa. Puas? Tidak.

Bagaimanakah akhir kisah dari bapak pencuri listrik dan anak-anaknya? Bagaimana pula nasib anak-anak kost yang tidak bebas menggunakan listrik yang mereka bayar dengan teratur setiap bulannya? Apa yang terjadi pada pihak-pihak berwajib yang sampai saat ini masih merasa takut untuk bertindak?

Ikuti kelanjutan ceritanya hanya di sini…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s