Pencurian Listrik: Sebuah Refleksi

22.02.2013.
11.11

Sebuah sms masuk.

Dear GK V/166’s family, lampu jalan disamping teras sudah dilepas tadi sm ibu dan segenap tim hahaha kita sudah terbebas dr si pencuri listrik itu. Tapi… Tetap harus hati2 ya, karna kita gatau responnya selanjutnya. Soalnya dr tadi rumah dia kosong.Have a nice day! :*

Rekap Kejadian

Oktober 2012. Listrik di kost dicuri oleh tetangga. Modusnya dengan cara membuat lampu jalan yang kabelnya terus terjulur menuju rumahnya. Lampu jalan nyala, lampu rumahnya nyala. Lampu jalan mati, lampu rumahnya mati. Semua mengerti bahwa listrik berguna untuk banyak hal. Berlomba-lomba orang mencari cara untuk dapat menghasilkan uang untuk membayar listrik, dan atau menciptakan teknologi pengolahan sumber daya lain sehingga menjadi sumber listrik. Betapa kreatif jalan yang dipilih oleh si bapak ini. Cara cepat. Singkat. Berbahaya. Belajar bahwa untuk hidup orang butuh listrik. Untuk bayar listrik, orang butuh kerja. Bukan mencuri.
(Tagihan PLN Oktober 2012: Rp 104.479,-)

Desember 2012. Upaya melapor kepada pihak yang berwenang rupanya tidak membuahkan hasil cepat seperti yang diinginkan. Bahkan mesti menunggu 1 bulan kemudian (yang buat kami sama saja 1 tahun rasanya) untuk mengetahui bahwa semua pada takut terhadap bapak pencuri listrik. Belajar bahwa takut dan hormat adalah dua hal yang berbeda namun selalu dapat disandingkan. Dan.. untuk bisa menaruh hormat pada pemerintah dibutuhkan kerendahan hati.
(Tagihan PLN Desember 2012: Rp 122.656,-)

Februari 2013. Akhirnya ibu kost ditemani oleh seorang anak kost melapor langsung ke PLN. Reaksi yang sama juga diterima. Kecewa lagi, pasti. Mengapa kalau pencurian listrik yang tidak dari gardu PLN tidak bisa ditindak? Mungkin saya yang keliru dalam melihat hal ini. Mungkin memang seharusnya pihak yang dirugikan saja yang mengurus sendiri. Dan ya! Pada akhirnya ibu dan tim, seperti isi sms diatas, yang mencabut lampu jalan serta memutus aliran listrik dari kost ke rumah si tetangga. Belajar bahwa mengandalkan manusia hanya akan mendatangkan kekecewaan.
(Tagihan PLN Februari 2013: Rp 119.448,-)

Maret 2013. Sebuah dentuman keras terdengar. Serentak seisi kost keluar dari kamar masing-masing. Ternyata kost depan juga mendengar bunyi serupa dan bahkan mengetahui sumber suara. Pintu gerbang depan kami rupanya kejatuhan batu. Itu menurut pengakuan si bapak pencuri listrik yang kebetulan ada di depan gerbang. 2 kali kejatuhan batu. Anak kost depan sempat membantah dengan mengatakan kalau gravitasi itu kan ke bawah. Yah, semua tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pelakunya. Kejadian itu meninggalkan bekas lekukan ke dalam di pintu gerbang dengan cat yang merah yang terkelupas. Hebatnya tidak lama dari waktu kejadian, semua barang bukti berupa bongkahan atau serpihan batu yang katanya terjatuh tadi sudah hilang lenyap, bersih tak bersisa. Luar biasa! Belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
(Tagihan PLN Desember 2013: Rp 124.794,-)

April 2013. Menerima e-billing PLN untuk pemakaian 26 Februari 2013 sampai 29 Maret 2013.. Belajar bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya.
(Tagihan PLN April 2013: Rp 85.234,-)

Akankah ada kelanjutan dari kisah ini?….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s