Jam Berapa Sekarang?

Jam Pasir

Wow. Sudah di hari terakhir di bulan Oktober 2013. Ingin menulis kejadian setahun lalu tepat di tanggal yang sama. Tapi mungkin di lain kesempatan saja.

Kali ini mau cerita tentang waktu.

Setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu,  tanpa ku sadari aku bisa tahu sudah jam berapa tanpa harus melihat jam. Tidak percaya?

Kita mulai dari pagi.

04.45

Alarm telepon genggam yang pertama kali memecahkan kesunyian pagi. Setiap Minggu hingga Jumat aku menyetelnya di pukul 04.45 dengan bunyi yang berganti-ganti sesuai selera. Dulu pernah pakai OST Shaun the Sheep, lalu ganti dengan lagu Awesome God. Kenapa pakai lagu itu? Karena lagu itu live recording dan diawali dengan suara tepukan tangan dan sorakan. Lumayan banget kan untuk membuat berisik di pagi hari. Kalau yang sekarang pakai lagu pembuka Doraemon versi Jepang.

05.00

Seorang teman yang membuka dan menutup kembali pintu depan. Itu artinya dia mau pergi ke gereja jam 5. Terkadang juga jam 6. Langkahnya kadang tergesa. Itu pertanda dia sudah terlalu lama menunggu kedatangan temannya yang bermotor untuk menjemput. Ketika dia memutar kunci pintu depan tidak terlalu berisik. Demikian juga ketika membuka gerbang. Hanya kadang kalau benar-benar sudah mau terlambat, suara pintu gerbang agak terdengar berbeda.

06.45

Kemudian teman lain akan meninggalkan kost sekitar pukul 06.45 dengan suara yang khas. Suara tergesa-gesa, mengambil helm di meja dan terkadang duduk sebentar di kursi tepat samping pintu kamarku untuk mengikat tali sepatunya dan kemudian keluar. Sebenarnya ini pertanda untukku agar segera beranjak dari kasur. Tapi aku sering tidak melakukannya.

07.00

15 menit kemudian bel sekolah dari SMP 1 akan berbunyi. Belnya kali ini benar-benar memaksaku untuk menginjakkan kaki ke lantai. “Bangun pemuda pemudi… Indonesia!” Itu nada belnya. Bunyinya mengingatkanku pada kejayaan nada dering jaman dulu waktu masih sederhana banget. Kalau hari Senin, kehebohan sudah dimulai dari 06.30 dengan suara orang mencoba pengeras suara dan aba-aba bagi anak-anak untuk bersiap upacara.

07.45

Masih bunyi bel dari SMP 1. Memang lokasi kostku itu dekat dengan SMP. Hanya sepelemparan batu saja jaraknya. Bahkan ketika aku akhirnya masuk SMP 1 untuk memakai lapangan bulutangkisnya, aku baru menyadari bahwa lapangan sepakbola sekolah ini tepat berada di belakang kost dan hanya dibatasi oleh tembokl saja. Seandainya ada pintu di tembok itu, seperti yang ada di tembok SMAku dulu, makan aku bisa memotong jalan dari Jl. Sagan langsung ke kost. Tidak usah memutar lewat Mirota ataupun bengkal Tresno. Tidak heran, kalau bunyi bel dari sekolah ini akan terdengar sangat jelas di kamar. Kalau hari Senin lebih seru lagi. Aku merasa ikut upacara lengkap dengan lagu Indonesia raya, Mengheningkan Cipta dan mendengar amanat pembina upacara. Oh, ini juga tanda bagiku untuk segera meninggalkan kost menuju kantor.

08.00

Jarak antara kantor dan kost tidak jauh. Yah, kata orang dekat itu relatif, apalagi untuk orang Jogja. Bilangnya dekat padahal jauh dan sebaliknya. Tapi ini benar-benar tidak jauh. Kalau jalan santai saja hanya menempuh waktu 15 menit perjalanan. Kedatangan di kantor akan disambut oleh bunyi bel tepat jam 8 menurut setelan  yang ada di bel itu. Terkadang, dan akhir-akhir ini sering, aku datang tidak mendengar bunyi bel, alias terlambat.

09.00

Meski bisa lihat waktu di telepon genggam, layar monitor laptop dan bahkan jam dinding, aku masih tidak membutuhkan itu semua. Kenapa? Karena disini yang berperan memberitahukan waktu adalah tubuhku sendiri, terutama perut dan mata. Karena jarang sekali, dan hampir tidak pernah, sarapan di kost maka kalau Mbah tenong datang itu adalah sebuah sukacita tersendiri buatku dan teman-teman senasib sepenanggungan lain. Biasanya Mbah datang jam 9 atau lebih dari itu.

12.00

Bel kantor, waktunya istirahat siang. Di sini ada beberapa penanda lagi. Kalau sebuah acara infotainment di salah satu stasiun TV swasta atau acara bincang-bincang yang tujuannya untuk konfirmasi di stasiun TV tetangganya –akhir-akhir ini didatangi oleh para pengacaranya selebriti/ pengacara yang akhirnya jadi selebriti–sudah selesai, berarti istirahat tinggal 15′ lagi.

13.00

Lagi-lagi bunyi bel kantor. Cukup tidak cukup, jam istirahat harus selesai.

15.00

Mata mulai perih. Jam-jam kritis. Berperang dengan kantuk dan pegal. Saatnya buat teh manis sambil olah raga ringan. Mondar-mandir keluar ruangan, ke ruangan sebelah, ke dapur, ke ruangan sebelah lagi dan balik ke ruanganku lagi.

17.00

Perut mulai lapar. Pas juga bel kantor, tanda waktunya makan.. eh, pulang.

18.30

Lapar makin menjadi-jadi. Kalau sudah beli makan makan tapi belum di makan, ini waktunya bersantai-santai sambil nonton atau baca buku. Kalau masih harus menunggu pesanan jadi, maka ini adalah saatnya untuk menunggu sambil memejamkan mata. Seringnya adalah akhirnya tertidur.

20.00

Perut kenyang. Hati senang. Mata makin mengantuk tapi badan belum mau dibawa istirahat. Biasanya ini adalah waktu untuk ngeteh lagi bersama teman-teman sambil update berita dan terkadang nonton juga.

22.00

Telepon genggamku bisa diatur supaya ON dan OFF sendiri sesuai waktu yang diharapkan. Kalau dulu aku atur waktunya pukul 23.00, tapi sekarang aku percepat menjadi jam 10 malam. Kalau tiba-tiba hp berbunyi dan menjadi gelap, itu tandanya sudah jam 10. Bisa lagi dinyalakan kalau hp masih diperlukan. Bagaimanapun, hp butuh istirahat. Demikian juga yang memakainya.

00.00

Tidak setiap malam, tapi sering aku tidak tidur sampai larut malam. Kalau petugas ronda  sudah memukul kentongan itu tandanya aku harus segera menyelesaikan segala aktivitas, sikat gigi, mematikan lampu kamar, berdoa dan tidur. Tidak susah menangkap bunyi kentongan. Pos ronda hanya beberapa langkah saja dari kost. Bahkan suara obrolan mereka yang bertugas ronda pun terkadang terdengar sampai kamar.

Sekitar 04.30

Amat sangat jarang sekali aku masih terjaga sampai pagi. Dan kalau adzan dari masjid yang ada dekat kost sudah berkumandang, itu artinya aku harus shutdown karena beberapa saat lagi lagu pembuka Doraemon akan segera terdengar.

***

Demikian aku mengetahui waktu mulai dari pagi sampai pagi lagi. Jamnya tidak selalu tepat seperti yang ada, terkadang kurang atau lebih, tetapi aku tahu aku sedang berada di sekitar waktu-waktu itu. Kalau Sabtu Doraemonnya istirahat, tapi bel sekolah masih berbunyi. Rupanya masih 6 hari kerja. Kalau Minggu terkadang bangun lebih pagi sebelum alarm bunyi karena gereja masuk pukul 06.30; harus melawan rasa malas Sabtu dan hawa libur Minggu.

Kalau dipikir-pikir, aku juga punya penanda waktu lain seperti timeline untuk kehidupanku. Misalnya, waktu kakakku menikah, itu pertanda aku harus selesai kuliah. Hhehhehe…. hal-hal seperti itulah. Masih ada beberapa yang lain. Mungkin aku butuh waktu untuk mengingat waktu-waktu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s