Grup H: Korea Selatan

kors-MMAP-sm ks-lgflag#prayfor Korea Selatan. Asia. Grup H.

Korea Selatan memiliki ribuan tahun sejarah berbagai penyerangan dan campur tangan dari negara- negara sekitarnya. Pendudukan Jepang (1910-1945), pemisahan Korea oleh pihak asing (1945-1948), dan perang Korea yang menghancurkan (1950-1953) telah
membentuk sikap dan politik orang Korea. Pemerintahan militer-sipil yang kuat berkuasa
pada tahun 1950-1987 ketika pergolakan sipil menghantar pada perubahan konstitusional dan bentuk pemerintahan demokrasi multipartai yang lebih terbuka. Setelah 32 tahun dipimpin oleh presiden dari kalangan nonsipil, maka pada tahun 1992 dipilihlah presiden pertama dari kalangan sipil. Tragedi di Korea Utara tampaknya
membuat baik konflik ataupun penyatuan kedua Korea tak terhindarkan.

Kaum muda, sedang berada dalam titik kritis. Kemakmuran yang makin meningkat dan
angka kelahiran yang rendah telah menciptakan generasi manja yang paling tertekan
dalam memenuhi harapan yang sangat tinggi.
a. Penurunan semangat rohani tampak di antara generasi lebih muda. Gereja harus bekerja keras mempertahankan jiwa-jiwa yang telah diperjuangkan dengan susah payah selama beberapa tahun terakhir seiring dengan makin kuatnya godaan dunia. Sebagian orang menyatakan kekristenan mengalami penurunan di antara kaum muda. Berdoalah untuk kebangunan rohani yang baru yang akan membawa dampak positif, khususnya bagi kaum muda.
b. Pelayanan mahasiswa tetap penting untuk memuridkan kaum muda Kristen dan
memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya Kristus. Berdoalah agar makin
banyak pekerja di antara para mahasiswa. Korea menduduki posisi teratas di dunia dalam
hal jumlah orang dewasa dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi (83%). Terdapat 3,6
juta mahasiswa di 408 universitas. Beberapa lembaga pelayanan memiliki banyak pekerja,
di antaranya adalah UBF, CCCI, Navs, IFES/IVCF, SFC, Joy Mission, YWAM, dan lainnya.

Visi untuk bermisi Gereja Korea terus bertumbuh dewasa secara luar biasa. Lebih
dari 170 badan misi tengah mengutus misionaris Korea dalam pelayanan lintas budaya.
Lembaga misi Korea yang besar adalah Global Mission Society, University Bible Fellowship, PC (T-hap), KMCBM, Korean AoG, KBC, InterCP, Paul Mission, Tyrannus International Mission, Korean Evangelical Holiness Church, GMF, GP.
a. Mobilisasi kaum muda untuk misi senantiasa penuh dengan kekuatan. Tuhan telah memakai kaum muda Korea menjadi ujung tombak gerakan misi di negara-negara Asia
lainnya. Mission Korea merupakan koalisi dari 24 lembaga misi dan 11 pelayanan kampus,
bekerja sama untuk tujuan yang sama, yakni memobiliasi kaum dewasa muda Korea dan
para mahasiswa sekolah tinggi bagi misi dunia. Mereka mengadakan konferensi berskala
nasional setiap dua tahun sekali, menarik lebih dari 5.000 kaum muda. Berdoalah agar
kaum muda ini dapat berada di misi garis depan —dengan doa, dana dan daya.
b. Sejumlah pelatihan misi yang baru dan efektif serta program-program orientasi telah
dikembangkan. Beberapa dari institusi pelatihan ini adalah The Center for WSorld Mission
(Presbyterian TongHap), Global Missionary Training Center (interdenominasional), Kosin MTI, Missionary Training Institute (Presbyterian HapDong), Missionary Training Center
(Korean Evangelical Holiness Church), dan Global Professionals’ Training Institute (bagi para tentmaker). Berdoalah untuk persiapan efektif para calon misionaris Korea, sebagian besar telah memiliki gelar teologi atau pelatihan pastoral.
c. Para misionaris Korea yang melayani di luar negeri membutuhkan dukungan doa. Peningkatan jumlah mereka yang cepat menciptakan beberapa kebutuhan besar, pelayanan terhadap misionaris (member care) khususnya, dan kerja sama dengan para misionaris dan lembaga misi lainnya; ini menuntut kerendahan hati dan fleksibilitas budaya orang Korea yang datang dari kerangka budaya sangat homogen.
d. Strategi di lapangan harus dievaluasi ulang. Apa yang berhasil diterapkan di Korea
belum tentu berhasil di tempat lain, dan sikap peka budaya sungguh penting bila misi
ingin berjalan efektif di luar negeri. Orang Korea, seperti halnya warga negara asing
lain, bisa saja bertindak kurang peka terhadap situasi lokal. Kisah penculikan terhadap
warga Korea Selatan di Irak (2004) dan Afganistan (2007) menimbulkan banyak kritik dari
media sekuler, yang membutuhkan banyak instrospeksi diri, refleksi, dan evaluasi ulang
mengenai cara pelayanan orang Korea di luar negeri.

#worldcup2014

Sumber: Operation World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s