Because I Love You

 Kenapa ya mau nonton film ini? Ahh.. karena ada si Oppa yang main di My Sassy Girl. My Sassy Girl yang pertama loh ya. Kalo yang kedua beda. Memang sih yang main masih Cha Tae Hyun tapi rasanya kalo bukan Gianna yang jadi Girl-nya, terasa aneh aja. 

So, ini cerita cinta tentang pria yang bahkan dalam keadaannya yang setengah hidup masih terus berusaha menggapai kekasihnya. Bagaimana caranya? Rohnya tuh berpindah-pindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Dalam masing-masing tubuh itulah dia mendapatkan beberapa pelajaran tentang cinta dan kehidupan. Uniknya, orang-orang yang dia rasuki itu adalah mereka yang berada dekat lokasi kecelakaan yang menimpa dirinya. Ada seorang anak sekolah yang semacam jadi jembatan. Gadis muda ini selalu ada dan tahu ketika Cha Tae Hyun sedang “hinggap” dalam tubuh seseorang. Anak ini juga yang kemudian dimintai tolong untuk bisa menyampaikan pesan kepada sang kekasih.

Aku suka lagunya. Waktu si kekasih menyanyikannya di atas panggung kok rasanya pernah dengar sebelumnya dan ternyata emang bener. Itu lagu lawas. Film ini bahkan dibuat sebagai tribute untuk sang pencipta lagu. Emang bener juga sih, lagu-lagu pop Korea Selatan atau yang lebih dikenal sebagai Kpop itu kayak punya pakem sendiri yang beda dengan lagu-lagu pop lain. Melodinya itu loh. Gimana ya bilangnya? Dari dengerin aja udah terasa bedanya. Bukan Kpop yang ala-ala boyband atau girls group loh ya, tapi lagu balladnya. Nah.. notasi, ketukan dan tarikan-tarikan suara mereka tuh khas banget. Mungkin itu juga yang lumayan bisa bikin aku suka sama film ini. Kalo soal roh yang suka jalan-jalan sih enggak hobi.

Apa lagi film Cha Tae Hyun berikutnya? 

Parched (2015)

​Nonton film ini karena tertarik dengan ulasan tentang 100 film India yang berpengaruh. Kira-kira begitu judul artikelnya. Sumbernya dari mana ya? Lupa. Pas cari-cari, dapet posternya dan kayaknya bagus. Masih belum begitu yakin sihawalnya dengan isi ceritanya.
Tentang 3 wanita dengan latar belakang berbeda dan mereka bersatu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Yang pertama, seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya. Dia punya anak lelaki remaja yang sudah dinikahkannya kepada anak perempuan yang masih sangat muda juga. Pernikahan anaknya ini tidak bertahan lama. Anaknya masih sangat labil dan sangat terpengaruh oleh pergaulan buruk dari teman2nya. Janda ini tinggal dengan ibu mertuanya yang juga meninggal tidak lama setelah pernikahan cucunya.
Yang kedua, seorang istri yang mendapatkan tekanan karena sudah lama menikah namun belum bisa memberikan seorang anak. Si suami sangat kasar dan sering memukul. Tokoh pertama dan kedua sama-sama bekerja untuk menghidupi keluarga dengan cara membuat karya dari kain dan hasil karya mereka mendapatkan apresiasi yang baik. Sayangnya, pasangan suami istri yang selama ini telah menolong menghubungkan dan memasarkan hasil karya para wanita ini ternyata dibenci oleh sebagian besar warga desa.
Yang ketiga adalah seorang penari wanita yang sekaligus menjadi wanita penghibur untuk memuaskan para pria. Dia sedang berada di akhir kejayaan. Dicintai oleh rekan kerjanya yang lain, namun dimaknai berbeda. Entah mana yang benar. Dia merasakan cinta, kebahagiaan dan penghargaan diri yang sesungguhnya dari seorang pertapa yang hidup di gua. Kepada pertapa ini pula dibawanya tokoh kedua agar apa yang selama ini dirindukan bisa tercapai.

Di poster kebanyakan menampilkan gambar 4 orang wanita dengan 1 orang yang berlari di depan dan 3 wanita di atas mobil roda tiga. Nah, 1 orang itu adalah si tokoh kedua. Menantunya tokoh pertama ikut duduk di mobil. Dia juga punya kisah tersendiri. Bersyukur dia punya ibu mertua yang baik dan mampu kembali bangkit bersama cintanya.

Ketiga plus satu tokoh ini saling terkait oleh masa lalu dan sama-sama sedang merajut masa depan. Melawan pandangan dan “hal-hal wajar” yang selama ini dianut oleh warga desa. Mobil warna-warni yang menembus kegelapan malam seakan menjadi obor yang menerangi kegelapan hidup yang akan mereka tinggalkan. Potongan rambut baru seakan menandakan keberanian untuk menghadapi tantangan dan pilihan-pilihan hidup yang akan mereka hadapi selanjutnya.

Foto: IMDb

My Annoying Brother (2016)

​Hyeong (2016).
Nonton film ini karena ada si ajudan kasep yg jago nyanyi. Gak tau sih kalo ternyata di film itu dia nyebelin. Waktu tampil di Running Man sebagai bintang tamu (sekaligus promosi pastinya) gak ada penjelasan tentang karakter. Hanya mereka memang kelihatan sudah akrab sekali sebagai abang adek. Mungkin karena sudah menghabiskan banyak waktu bersama untuk dapetin chemistry sebagai saudara kali ye..

Di awali dengan adegan si adek sedang bertanding dan gak tau kenapa tiba-tiba dia kehilangan penglihatannya setelah dijatuhkan lawan. Sempat bertanya-tanya sih, apakah bisa separah itu? Tapi olahraga yang langsung melibatkan kontak fisik memang bisa sangat berbahaya. Lalu si abang yang di penjara dan dengan sangat tidak meyakinkan berusaha mendapatkan izin supaya bisa keluar untuk merawat si adek karena mereka sudah tidak punya orangtua lagi dan hanya tinggal adeknya yang hidup sendiri di rumah. 

Dan.. cerita pun berlanjut. Si adek ternyata gak seneng kalo si abang datang. Si abang juga gak bener-bener dateng karena perhatian, awalnyaaaaa…. Jalan cerita khasnya film Korea pun hadir di sini. Ada lah adegan dan percakapan yang bisa bikin kita tertawa, sebel dan terharu. 

Ada lagi Park Shin Hye yang menurutku gak penting banget ada di film ini. Akting sebagai orang buta juga masih sangat kasar. Apa emang template mukanya si adek kayak gitu ya.. di “It’s Okey Its Love” kayaknya dia bisa lebih santai, walau agak aneh juga sih waktu itu menurutku. Si abang bener-bener annoying dengan cara yang manis. Lama-lama kita diajak untuk memahami kenapa dia bisa jadi seperti itu. Tetep, bagian menyebalkannya adalah: itu film sad happy ending atau happy sad ending

Sing (2016)

MV5BMTYzODYzODU2Ml5BMl5BanBnXkFtZTgwNTc1MTA2NzE@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_Tarzan menceritakan bagaimana hewan dan manusia bersahabat baik. Jungle Book, manusia berjuang untuk dapat diterima dunia hewan. Rio, perjuangan seekor burung yang lupa bagaimana caranya terbang. Finding Dory, perjuangan seekor ikan pelupa dalam menemukan orangtuanya di lautan luas. A Bugs’ Life mengajak mengintip kehidupan serangga. The Secret Life of Pets membukakan rahasia hewan peliharaan. Di Zootopia, kelinci tidak menyerah untuk jadi polisi. Dan di Sing, semua bahagia ketika impiannya untuk bernyanyi bisa terwujud!

Tidak ada ekspetasi khusus waktu menonton film ini. Cuma mau tahu saja, bagaimana lagu-lagunya dan bagaimana mereka bernyanyi. Hehehehe… Ternyata aku mendapat lebih! Masing-masing pribadi punya cerita di balik keinginan mereka untuk bernyanyi. Tidak cuma itu, tetapi juga kerinduan untuk didengarkan dan dihargai. Dan melalui nyanyian, mereka bertemu satu sama lain dalam sebuah audisi untuk membentuk sebuah pertunjukan guna menyelamatkan sebuah gedung theater yang pernah jaya pada masanya. Jalan ke sana tidak mudah. Di sinilah masing-masing orang, err.. hewan, berkonflik dengan dirinya, orang lain dan lingkungannya. Dan, mungkin ini yang bikin salah satu teman bingung. “Ada banyak konflik tapi kok penyelesaiannya cepat?” Ya, hanya dengan satu penampilan bersama, semua selesai. Mungkin bakal ada sekuelnya?

Para pengisi suara berperan penting di sini. Mereka bernyanyi! Dan nyanyian itu yang menjadi jiwa dalam film, tidak hanya sekadar pengisi suara tokoh-tokoh hewan dengan berbagai karakter. Aransemen musiknya juga cukup menyegarkan. Beberapa lagu sudah cuku aku kenal tetapi terdengar seperti baru. Shake It Off, dengan goyangannya. My Way, dengan slow motionnya. Hallelujah, dengan kehikmatannya. Ada juga lagu-lagu yang aku baru pertama kali dengar dan bikin mau dengar versi aslinya seperti, Don’t You Worry-nya Stevie Wonder dan I’m Still Standing-nya Elton John.

Ah… Di film apa lagi aku bisa melihat hewan-hewan imut ini bernyanyi dengan indahnya?

 

Credit: http://www.imdb.com

What a Wonderful Family (2016)

It's_Tough_Being_a_Family-p1Kazoku wa Tsuraiyo (2016). Alasan mau nonton film ini karena ada Bapak yang jadi kakeknya Chibi Maruko Chan. Hehehehe.. Sudah tua banget. Baca sinopsisnya dan kayaknya menarik. Bagaimana bisa sepasang suami istri yang sudah mengarungi sumah tangga selama 50 tahun malahan berakhir di perceraian? Dan lebih serunya, surat cerai yang ditandatangani oelh si Bapak adalah kado yang diminta oleh Ibutepat di ulang tahun emas pernikahan mereka.

Keluarga sederhana. Bapak dan Ibu tinggal bersama anak tertua beserta istri dan dua orang anak lelaki mereka. Tidak lupa anak bungsu si Bapak juga masih tinggal di sana, padahal usianya sudah pantas untuk menikah dan meninggalkan rumah. Rupanya ada alasan mengapa dia masih tetap tinggal di rumah yang sama. Anak tengah, perempuan, tinggal bersama suaminya di tempat lain. Suaminya ini lucu gitu. Hahaha.. ketika yang lain lagi serius berdiskusi, dia malahan main bola senam sampai terpeleset dan disengiti sang istri.

Si Ibu, dalam usia senjanya, ikut klub menulis dan sangat menikmati pelajaran dan interaksi dalam klub. Dia dan para peserta klub, yang juga rata-rata sudah nenek-nenek, rupanya mengagumi sang Pengajar. Ide dan tulisan si Ibu sempat dipuji dan menjadi bahasan klub. Si Ibu juga memiliki waktu berharga dalam perenungannya tentang si Bapak dalam proses mengikuti klub menulis ini.

Si Bapak, sempat merasa orang yang dibuang setelah tidak ada gunanya, akhirnya menerima saja keputusan si Ibu. Malahan terkesan tidak peduli dan tidak memperjuangkan kembali hati si Ibu. Sampai anak-anak gemas dibuatnya. Si Bapak banyak menghabiskan waktunya di sebuah warung sake yang dimiliki oleh seorang wanita cantik yang baik hati yang selalu memperhatikan setiap pengunjung warungnya, termasuk si Bapak.

Cucu-cucu si Bapak juga ada aja tingkahnya. Dalam rumah imut berlantai dua, 2 remaja yang sedang beranjak dewasa harus berbagi segalanya dan pastinya, muncullah persaingan. Bapak mereka juga tak luput dari keisengan. Dengan ekspresi yang tidak terkatakan, Bapak mereka pasrah saja terhadap perlakuan anak-anaknya. Seperti Bapaknya si Bapak yang juga pasrah terhadap perlakuan Ibunya.

Si anak bungsupun punya cerita sendiri di tengah kemelut keluarganya. Dia, dan calon istrinya, seakan memberi harapan bahwa pernikahan dan kehidupan bersama masih bisa dipertahankan dan diperjuangkan. Oleh karena itu, dia tidak mundur dari rencananya untuk menikah dengan kekasihnya meski kedua orangtuanya sedang di ambang perceraian. Optimis sekali anak muda ini!

Yang menarik, ada adegan si Bapak nonton film Tokyo Story dan aku juga sudah pernah nonton film itu. Hehehehe.. Seperti ada hubungan antara yang dialami sama tokoh  di film itu dengan apa yang terjadi dalam kehidupan si Bapak. Belum nonton Tokyo Story?

Akhirnya, walaupun tidak seindah yang dibayangkan, kehidupan berkeluarga pasti ada saat-saat bahagia. Ada juga saat jenuh. 50 tahun bersama orang yang sama setiap hari! Seperti judulnya dalam bahasa Jepang, Kazoku wa Tsurai yo, yang berarti “It’s Tough Being a Family”. Nah, bagaimana respon hati ketika jenuhitu datang?

Credit: http://asianwiki.com

Nagasaki: Memories Of My Son (2015)

Nagasaki-_Memories_of_My_Son-p02Haha To Kuraseba atau Living With My Mother.

Olrait. Terus terang, pertama kali tertarik dengan satu kata: Nagasaki. Setelah baca sinopsisnya ternyata memang ada hubungannya dengan peristiwa bom Nagasaki. Tidak familiar dengan pemainnya, karena memang tidak terlalu mengikuti perkembangan film Jepang, hanya menikmati saja sesekali. Ternyata yang menjadi anaknya itu adalah Kazunari Ninomiya, temennya Aa Kimutaku di SMAP. Hehehehe.. Menang pula dia di Japan Academy Prize for Outstanding Performance by an Actor in a Leading Role.

Alurnya lambat dan berputar di tempat yang sama. Flashback membuat kita mengerti bagaimana kehidupan yang membentuk hubungan anak dan ibu ini. Masa-masa perang memang membuat hidup menjadi tidak mudah. Mereka berdua sangat dekat dan saling membutuhkan satu sama lain dengan cara yang mungkin tidak dimengerti oleh orang lain, dan juga mungkin penonton. 130 menit looh. Kalau tidak sabaran untuk menyimak, mungkin kita akan tertidur beberapa menit di awal. Hahahaha..

Akhir yang membawa semangat baru untukku. Selalu ada akhir untuk sebuah awal yang baru. Ditinggalkan dan meninggalkan itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan namun harus tetap dihadapi. Kekuatan cinta dan kenangan mampu membuat hidup menjadi lebih bermakna untuk dijalani. Dan, akan ada waktu di mana kita akan bertemu kembali dengan orang-orang yang kita cintai dalam kekekalan.

Kekekalan seperti apa yang akan kamu temui nanti?

Credit: http://asianwiki.com/Nagasaki:_Memories_of_My_Son